Kita Butuh Waktu untuk Hening

                                                     18813324

Suatu hari saat berkunjung ke Toko Buku Gramedia bersama ibu, saya menghampiri rak bergenre pengembangan diri. Genre bacaan yang sudah lama saya tinggalkan. Waktu itu saya hanya sekadar melihat-lihat sekaligus berpikir mencari suasana baru tentang bahan bacaan saya yang akhir-akhir ini lebih banyak ke sastra. Ada tiga buku yang menarik minat saya  namun karena tak ada agenda untuk membeli kala itu saya hanya mengambil photo judul dan harganya untuk dimasukan whislist. Saya pulang tanpa membawa buku baru tetapi membawa keinginan untuk kelak membeli buku yang menarik minat saya tadi.

Salah satu buku yang menarik minat saya adalah karangan Adji Silarus dengan berjudul “Merawat Bahagia”. Alasannya judulnya dan sinopsisnya ‘serasa pas dengan kebutuhan saya saat ini’ ditambah penulisnya merupakan ‘lulusan Psikologi UGM’. Saya menyadari bahwa saya di rumah sudah memiliki satu buku Adjie Silarus yang hingga saat itu belum pernah saya buka alias masih segel sejak beli. Itu jugalah alasan saya untuk mengembalikan buku terbaru Adjie ke tempatnya semula. Pulang dari sini saya akan membuka dan mencari tahu daya tarik dalam tulisan Adjie sebelum membeli buku terbarunya.

Alhasil saya mulai membaca buku Adjie untuk pertama kalinya berjudul “Sejenak Hening” . Sebuah buku pengembangan diri atau buku motivasi. Isinya sederhana dengan disertai gambar di awal setiap chapter menambah suasana perenungan. Buku Adjie ini dibaca untuk direnungkan supaya pembacanya menjadi sadar penuh begitulah kira-kira kesan yang saya dapatkan.

Sadar untuk menjadi bahagia. Sadar untuk menikmati hidup. Sadar untuk menemukan kepuasan di dalam kesederhanaan. Sadar untuk mengenal penyebab seseorang menjadi stress. Sadar untuk menikmati hari ini sekalipun ada banyak persoalan. Sadar untuk selalu sadar ada hal yang haru disyukuri dengan tulus. Bagaimana caranya ?

Dengan hening, seperti judul buku. Hening dalam artian diam sebentar untuk tak memikirkan apa-apa hanya merasakan detak jantung, napas naik turun, udara masuk dan udara keluar, dan hal-hal lain yang membuat kita menyadari fungsi tubuh. Sesuatu yang tak pernah dilakukan orang zaman sekarang yang semakin bertambah sibuk dan serba terburu-buru.

Kata-kata Adjie dalam buku ini sangat sederhana sehingga seharusnya bisa dicerna oleh semua pembaca. Ada kesan bahwa memang untuk menjadi sadar penuh demi kebahagiaan tak selalu dengan hal-hal rumit. Kita butuh yang sederhana agar menyadari bahwa hidup bahagia sejatinya juga sederhana. Namun kita sering kali menolak yang sederhana.

 

Judul                          : Sejenak Hening

Penulis                      : Adjie Silarus

Penerbit                    : Metagraf, Cet-3 2014

Jumlah Hal               : 307 hal

ISBN                           : 978-602-9212-85-3

 

25 Juli 2018

Iklan

BACA BUKU YUKZ, MEMBACA ITU ASYIK LOH…

 

(The Art of Reading)

Judul Buku          : The Art of Reading

Penulis                 : Agus Setiawan

Penerbit              : Gramedia Pustaka, Cet-1 tahun 2012

Tebal                     : 146 halaman

ISBN                      : 978-979-22-8166-8

Genre                   : Pengembangan Diri / Hobi

 

13574951._UY400_SS400_

 

Banyak orang besar atau orang sukses dalam karir dengan dibantu oleh kebiasaan membaca. Tentu saja membaca buku-buku yang menunjang perkembangan diri mereka. Jadi kesimpulannya membaca adalah perlu dan dapat mengantarkan pada keberhasilan.

Kemudian ada beberapa orang termasuk juga saya yang sudah senang dengan membaca senang mendatangi toko buku bahkan sampai membelinya. Persoalannya yang kemudian ialah kesenjan menemukan buku yang sudah dibeli hanya tergeletak atau buku baru hanya menumpuk dan menjadi sekedar hiasan di almari atau terjadi perubahan dari yang tadinya hobi membaca menjadi hobi mengoleksi buku bacaan. Apakah kita sering mengalami kejadian ini ? Saya mengalaminya. Buku yang saya beli kebanyakan belum terbaca karena tak sempat atau karena belum waktunya, sementara kebiasaan membeli buku tak bisa berhenti dengan alasan takut kehabisan dan lain-lain.

Dari dua persoalan diatas yang berkaitan dengan membaca. Maka buku ini hadir untuk memberi tuntunan supaya kita dapat mengatasi persoalan tersebut. Dengan ulasan sederhana sang penulis yang merupakan trainer sekaligus terapis alam bawa sadar ini membeberkan jurus-jurus yang jitu jika kita mau melakukannya.

Di bagian awal kita akan diajak merefleksikan diri untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan sederhana tapi penting tentang membaca dan harus kita jawab sebelum memasuki bagian lainnya. Misalnya pertanyaan tentang Apa tujuan kita membaca buku ? Kita diharuskan menuliskan minimal 10 alasan yang spesifik rinci detail dan pasti. Bukan pekerjaan mudah menemukan 10 alasan ini tetapi bila berhasil kita akan menemukan “semangat awal” untuk memulai kebiasaan membaca. IMasih ada beberapa pertanyaan lain yang harus kita jawab supaya halaman berikutnya kita bisa nyambung untuk dapat menyelesaikannya.

Pada bagian berjudul -Mengatasi Hambatan Mental- kita akan diajak melakukan pemanasan. Ini penting khususnya bagi yang memang sering mengalami hambatan saat niatan membaca hancur di tengah-tengah halaman. Biasanya disebabkan oleh kata-kata yang sulit dicerna, mengantuk, suasana kurang pas dll. Bagian ini aka nada aktifitas tubuh yang bisa dicoba dipraktekan dengan tujuan membuat tubuh menjadi rileks sehingga otak genius mungkin akan muncul.

Pada bagian lainnya pembahasan secara umum hampir sepadan yaitu mengenai efektifitas membaca. Beberapa penjelasan akan terasa diulang-ulang meski ada perbedaan judul. Cara-cara menjadi efektif dijabarkan dengan singkat padat dan berulang. Ada dua istilah jurus yang menjadi kunci dalam buku ini yaitu otak genus dan membaca flow. Bila keduanya aktif dan dipadukan maka kita sudah pasti mampu membaca secara efektif. Penulis juga sering menjelaskan dan merekomendasikan kita untuk dapat membaca secara cepat. Baca kilat dengan memainkan otak kanan dan kiri. Otak kanan untuk screaning dan mensorot otak kiri yang mengolah untuk menjadikannya sebuah informasi. Tapi, tidak semua bacaan harus dibaca dengan cepat karena setiap orang memiliki cara berbeda-beda dalam memproses informasi. Yang paling penting adalah membangun kebiasaan dalam buku disebut dalam –gigitlah apa yang bisa anda kunyah- dikhususkan bagi orang yang belum pernah atau terbiasa dengan membaca.

Tidak lupa pula -Einstein Faktor- yang walau agak sedikit membingungkan dengan penjelasaanya. Kita akan mampu mengerti saat dijelaskan mengenai contoh percobaan tentang Einstein Faktor. Ini juga merupakan bagian dari teknik, khususnya untuk menyadari berapa lama (hitungan menit) kita menjaga konsentrasi kita sewaktu membaca. Juga bisa menelusuri sebab-sebab  hilangnya konsentrasi saat kita membaca. Intinya di bagian ini kita diberi tau cara untuk meningkatkan konsentrasi saat membaca.

Buku yang saya nilai -baik- karena mengajak pembacanya untuk memiliki kebiasaan positif yaitu membaca. Karena membaca bisa ikut menolong seseorang pada sebuah keberhasilan. Buku ini memang hanya perihal bagaimana menjadi pembaca yang berhasil namun beberapa jurus dalam buku ini juga bisa digunakan untuk kegiatan positif lainnya. Misalnya bagaimana bisa bertahan untuk bermain musik meski awalnya susah karena merasa tidak berbakat, kesulitan menghapal nada dan masalah lainnya, sehingga kekonsistenan bukan hanya menjadikan kita  -bisa tapi menjadi -jago. Buku ini bisa dipakai dalam semua bidang. Kuncinya asal dibaca sampai habis kemudian dipraktekan, pasti akan jadi.

Buku ini memang sederhana dan ringkas. Isinya menarik dan amat berguna bagi perkembangan diri. Beberapa pengulangan beberapa bahasan padahal tema berbeda akan lebih baik bila tidak ada. Hal ini dikhawatirkan menimbulkan -perasaan sudah pernah- sehingga kita akan lebih memilih untuk melewatinya atau bahkan mengakhirinya padahal mungkin ada pesan atau inti yang berbeda di dalamnya. Di bagian akhir dengan sub bab Testimoni sepertinya kurang efektif untuk dihadirkan dalam buku ini apalagi jumlah halamannya cukup banyak. Mungkin akan lebih baik bila isi testimoni tidak ada atau diganti dengan tutorial langsung mengenai cara-cara yang sudah dibeberkan pada bagian sebelumnya. Atau menaruh ulasan ringkas mengenai topik yang berhubungan dengan isi buku ini seperti bacakilat atau mind maping.

Begitulah kurang lebih mengenai buku ini. Sebuah buku yang hanya menuntun bukan menjadikan kita berhasil untuk punya kebiasaan membaca atau memiliki kemampuan membaca secara efektif.

 

#ayomembaca 

 

Awas jadi RAWAN pada SENJA

 

(Sepotong Senja untuk Pacarku)

Judul Buku          : Sepotong Senja untuk Pacarku

Penulis                 : Seno Gumira Ajidarma

Penerbit              : Gramedia Pustaka, Cet-3 dengan cover baru Januari 2017

Tebal                     : 207 halaman

ISBN                      : 978-602-03-1903-2

Genre                   : Kumpulan CerPen / Sastra Indonesia

1025836

Perihal senja dengan segala keindahan, ketakjuban, juga keanehan yang membikin kita penasaran di ungkap terang-terangan dalam buku ini. Mengambil tema tentang senja, berarti isinya hanya soal senja. Ditempel dengan objek yang menjadi pelengkap cerita tentang senja. Saling baur membaur menjadikannya jalan cerita senja. Pada dasarnya senja tak dapat digambarkan dengan real, rinci, dan terukur. Senja hanya dapat dilihat, dipandang, dan kemudian di rasa. Kemudian diolah menjadi sebuah dokumentasi yang tersusun lalu dikunci dalam buku ini.

Diawali dengan senja merupakan kado yang terindah untuk para pacar. Sebab senja tak perlu kata-kata. Senja ialah bukti sahih. Senja sudah menceritakan dirinya yang tak mampu diulang, direkam, atau ditulis. Senja adalah kenyataan. Lebih baik para pacar menghadiahi senja kepada pasangannya. Begitukah yang dikatakan cerita dalam buku ini. Ajakan yang membuat buku ini memperoleh pengikut untuk menjiplak surat berisi senja untuk diberikan kepada pasangan masing-masing.

Buku ini juga menyinggung jikalau senja terasa susah didapat di tengah kota atau kehidupan modern yang seringkali dihunungkuan dengan kota. Eksistensinya terhalang oleh hingar bingar kota. Keberadaannya terjepit oleh gedung-gedung tinggi industri. Di kota senja bukanlah keagungan alam yang dipuja. Di kota senja kehilangan ke permaiannya. Kita tak kan bisa merasai senja di tengah kota. Jangan-jangan kita telah kehilangan senja. Senja akan hilang dari dunia ini. Sirna oleh kegelamoran perkotaan. Senja mati. Meskipun sebenarnya senja memang tak bisa mati, kecuali rasa nikmatnya yang mati.

Senja tak bisa hadir sendiri. Ia butuh busana untuk dapat menceriterakan dirinya. Bayangkan jika senja tanpa awan yang menjadi kemerah-merahan, jingga, atau hitam. Bayangkan jika senja tanpa biru laut yang lekas berevelosu warna menjadi cermin matahari. Atau senja tanpa matahari,pasti tak akan pernah ada senja. Bagaimana dengan manusia ditengah lautan dengan perahu serta cadiknya berjalan lebih lambat dari lambat. Jangan juga menyingkirkan burung camar atau burung pelican yang sayapnya menjadi siluet. Serta benda-benda lainnya yang mengerumuni senja. Tak ada mereka maka sangat jadi tak ada senja. Pelengkap senja selalu diulang dan di ulang demi menghadirkan inilah senja.

Membaca kumpulan cerpen yang dulu digemari oleh kaum remaja, muda mudi yang sering jatuh cinta ini adalah rawan. Rawan untuk jadi ikut-ikutan mencuri senja. Mencari senja demi menghabisi rasa ketakutan, takut tidak kebagian senja. Seno Gumira menunjukkan bahwa senja bukan hanya pas untuk cerita tentang kemesraan sepasang anak manusia. Cerita tentang senja juga bisa menyinggung banyak hal tentang kehidupan sosial manusia. Tentang keluarga, tentang budaya, tentang anak-anak, atau tentang profesi sekalipun. Senja bisa menerangkan siapa saja dan Seno mampu mengkisahkannya dengan apik dengan kata-katanya yang puitis. Ketika orang kebanyakan merekam senja dengan photo Seno memilih dengan tulisan. Ingatan, pengamatan, kepekaan, kepeduliannya sebagai seorang senior sastra memang harus dikagumi. Mengenang keberadaan senja dengan sebuah cerita yang tak kalah dengan dokumentasi photo.

Namun apakah kata-kata picisan puitis yang diulang-ulang itu memang harus terjadi di dalam cerita tentang ala ini. Terkadang kita suka menjadi bosan dengan  kata-kata boleh dikatakan bualan bin gombal. Tapi itu banyak dalam cerita ini. Jadi jangan sampai terbuai dan melayang tinggi.

Inilah sebuah kisah bukan kisah yang melulu romantis tentang Senja yang mengandung romantis.

 

#ayomembaca 

(Bukan) Perjalanan yang menyenangkan Sang Alkemis

Judul Buku          : Sang Alkemis

Penulis                 : Paulo Coelho

Penerbit              : Gramedia Pustaka, Cet-14, tahun 2013

Penerjemah       : Tanti Lesmana

Tebal                     : 216 halaman

ISBN                      : 978-979-22-9840-6

 

18367755

Ada seorang anak laki-laki bernama Santiago yang merasa tujuannya hidupnya untuk berkelana, mencari tahu tentang dunia. Ia adalah penggembala domba, setiap hari selalu rutin menjaga dan membawa dombanya ke padang rumput hijau. Ia tak memiliki tempat tinggal tak ada kejelasan dimana ia menetap, tapi jelas ia selalu bersama domba. Berjalan selangkah demi selangkah menjelajahi daerah-daerah baru bersama domba. Ia akan segera menjual wol dari domba-dombanya agar ia sendiri bisa memenuhi hidup. Paling tidak dengan memiliki air anggur dan buku-buku bacaan berukuran tebal. Meskipun ia hanya gembala ia bisa membaca.

Si anak mendapati mimpi yang sama paling tidak dua kali, sehingga ia penasaran. Mimpi yang menggugahnya untuk menjadikannya nyata. Mimpi yang kelak menjadi misi hidupnya. Rasa penasaran juga mungkin terganggu membuatnya bertemu dengan  perempuan Gipsi dan seorang tua untuk menterjemahkan arti mimpinya. Perjumpaannya dengan orang tua yang mengaku  dirinya seorang raja, semakin mempertebal keyakinannya jika mimpi itu bisa di jadikan. Karena semesta bahu membahu membantu mewujudkan keinginan, begitu nasehat dari orang tua. Si anak lelaki berangkat dengan menjual kawanan dombanya yang selama ini menemani hidupnya.

Pertaruhan luar biasa demi sebuah mimpi. Dalam perjalanan menemukan harta karunnya, dimana hartamu berada disitulah hatimu. Banyak rintangan dan jegalan harus di lalui dan jalani. Mulai dari kehilangan hasil penjualan domba, sampai nyaris terbunuh oleh orang asing di negri asing. Ia sendiri bertemu dan di dampingi oleh seorang Alkemis yang mengajarinya mengerti bahasa dunia, jiwa dunia yang agung, yang juga mampu membuat emas. Ia sendiri menjadi murid sang Alkemis karena ia memang sudah berbakat mengerti bahasa dunia sejak ia bersama dombanya. Lalu akankah Santiago mendapatkan hartanya atau meraih mimpinya ? Yang menarik dari cerita ini adalah bekal di dalam keteguhan hati dan karakterisasi si anak dalam menemukan harta karunnya. Lebih menarik mendapatkan kekuatan-kekuatan dalam perjalanan mencari si harta, bukan saat menemukannya. Inilah harta sebenernya yang didapatkan oleh sang anak.

Sudah menjadi kekhasan Paulo Coleho sepertinya, membuat cerita dengan unsur spiritual, penuh perenungan diri sebagai seorang diri manusia. ALkemis sebuah cerita tentang berkelana juga memaksa pembaca untuk berkelana pula. Singgah ke tempat-tempat persinggungan sang tokoh utama. Melalui novel ini saya beranggapan Coleho sedang meyakini pula tentang harta karunnya, tentang impiannya. Kita pun selaku pembaca juga ikut tertular untuk berada pada masa itu.

Menurutmu, dimana tempat tinggal Santiago ? Sebab terkadang titik mula menjadi penting dalam sebuah keberangkatan. Kemunculan seorang Alkemis dibagian akhir cerita sangat disayangkan, mengingat dirinya lah yang dijadikan sebuah judul dari buku religious ini. Memang Tak bisa dikesampingkan perannya yang membantu cerita ini sampai pada tujuan akhirnya. Saya pikir Santiagolah yang menjadi Alkemisnya, ternyata belum tepat sasaran.

 “Ingat dimana hartamu berada disitulah hatimu berada….”

“Semesta bahu-membahu membantu kita dalam mewujudkan impian…”

#ayomembaca 

1984

images

Siapa  Bung Besar ?

JUDUL                                     : 1984

PENULIS                                 : GEORGE ORWELL

PENERBIT                              : BENTANG, 2014

PENERJEMAH                        : LANDUNG SIMATUPANG

ISBN  978-602-241-003-9

 

Karya pertama dari penulis sastra asal Inggris yang saya baca. Buku yang sudah lama terbeli dan marangkak di dalam rak untungnya tidak sampai kusam, akhirnya terbaca hingga selesai. Bukan bacaan yang mudah untuk diingat dan perlu perlahan-lahan untuk mencerna. Cara paling mudah untuk mendapatkan inti dari cerita adalah mencari muatan emosionalnya lakon dalam ceritanya.

 

Buku dengan tebal halaman 369 (belum termasuk lampiran karena saya tak sampai membacanya) bercerita keditaktoran di Inggris yang dikuasai oleh partai yang dipimpin oleh Bung Besar. Segala hal yang dikeluarkan, dilakukan dan berasal dari partai adalah benar dan wajib untuk diikuti oleh warga. Hampir disetiap tempat terdapat teleskrin (semacam kamera pengawas sekaligus penyadap suara) termasuk di rumah sendiri. Segala tingkah laku, gerak-gerik warga Inggris hampir bisa terlihat oleh teleskrin dan  mikrofon. Yang dengannya tidak ada privasi. Semua harus mematuhi dan tunduk kepada partai. Melepaskan kepentingan sendiri, bahkan kepentingan keluarga, demi kepentingan partai. Itulah tanda cinta pada sosok Bung Besar. Barang siapa yang tidak setia melakukan tindakan subversif seperti berpikir lain yang bukan dari partai, atau melakukan tindakan yang bukan doktrin partai semisal bersetubuh dengan cinta yang bergelora, akan diringkus oleh polisi pikiran untuk kemudian akan dilakukan penindakan oleh Mentri Cinta Kasih.

 

Partai menuntut semua orang yang hidup di teritori Oceania saling menilai saling mencurigai satu sama lain tidak boleh ada ikatan emosional yang menimbulkan kasih saying sekalipun itu orang tua dan anak, orang tua dengan kakek nenek, sampai dengan tetangga. Semua hanya cinta dan setia pada partai. Maka anak-anak akan menjadi agen mata-mata dari polisi pikiran yang akan melaporkan orang tuanya yang tidak setia atau berpikiran lain dari partai. Anak akan selalu mengintip aktivitas orang tuanya. Dan para orang tua akan bangga dengan para anak yang demikian.

 

Yang memberontak, yang berlaku curang, yang memilih untuk melakukan subversif akan dianggap mata-mata musuh dan akan dihilangkan dan anak-anak akan senang menonton penghilangan para pemberontak ini. Sejarah yang tidak sesuai dengan visi partai akan diubah menjadi sejarah yang baru sehingga orang tidak akan tau dan tidak perlu untuk tau kebenarannya. Demi cinta pada Bung Besar.

 

Munculah sosok Wisnton pria berkekurangan dengan bisul di pantat, bekerja sebagai editor media masa partai yang tugasnya mengganti fakta kemudian menghilangkannya. Seorang yang setia dengan partai yang patuh dengan partai. Seorang yang telah menikah namun berpisah. Seorang anak dengan masa lalu yang masih kabur.

 

Namun pria yang sudah berpuluh tahun ini rupanya memiliki pikiran lain, pikiran yang selalu bertanya tentang fakta, pikiran yang membuatnya mulai untuk meragukan partai, meskipun tak kelihatan dan selalu berhasil dia tekan. Agar tak sampai kedapatan polisi pikiran. Buku harian adalah tempat untuk meletakan keraguan, pemikiran tentang yang lain yang bukan dari partai. Sampai pada kesadaran bahwa Winston tidak bisa cinta pada Bung Besar. Kalau Winston mengharapkan kekalahan partai di dalam perang melawan Estasia buka Eurasia. Winston kemudian jawaban yang sebenarnya yang bukan dari partai untuk meredakan kegelisahannya.

 

Sampai akhirnya Winston bertemu dengan Julia. Seorang wanita muda yang juga telah berpura-pura untuk setia dengan partai. Sampai mereka bercinta dengan rencana pertemuan rumit yang sudah diatur demikian rupa agar tidak keburu tertangkap oleh agen-agen apalagi polisi pikiran. Winston dan Julia berpetualang dalam pikirannya dalam badaninya.

 

Tetapi keintiman mereka segera tercerabut dan memang baik Winston dan Julia telah menyadarinya bahwa kolaborasi mereka berdua tidak akan lama usianya. Mereka terjebak oleh buku terlarang karya Emanuel Goldstein yang dianggap berisi tentang keadaan sebelum ada partai dan juga tentang Bung Besar. Apakah Obrein yang memberikan buku itu yang sebelumnya dianggap sekutu bahkan saudara oleh Winston ? Atau malah Julia sendiri yang selama ini intim dengannya ? Atau paman Cuningham yang telah menyediakan kamar sebagai tempat pertemuan sekaligus persembunyian yang sempurna bagi Winston untuk bercumbu dengan Julia ?

 

Winston ditangkap dan ditahan entah berapa lama dan dimana. Obrein yang mengatur deraan dan siksaan bagi Winston yang dianggapnya lain dari yang lain dan minoritas. Interograsi yang panas bertujuan untuk membuat pikiran Winston normal dan sadar. Arti normal adalah berpikir seperti apa yang partai lakukan. 2+2=5 bukan 2+2=4, apapun yang partai katakana atau keluarkan maka itu juga yang dikatakan oleh Winston. Begitulah Winston dipenjara dengan usaha untuk mengubah Winston menjadi yang baru. Untuk Winston menjadi menyesal dan muncul rendah diri sehingga muncul cinta yang kuat pada Bung Besar. Sebelum ia ditembak mati dalam kebanggan dalam kesembuhannya.

 

Sosok Bung Besar dengan poster besar dan mata berpendar seolah sedang berkata kalau Bung Besar sedang dan akan terus melihatmu akan terus membuat warga dirundung ketakutan, kekesalan yang tersamarkan dengan kepatuhan. Sekalipun mereka tidak harus tahu apakah Bung Besar itu nyata. Sampai akhir cerita sosok Bung Besar masih menjadi misteri, bisakah dia sakit bisakah dia mati ? Tidak bisa Bung Besar akan ada selama-lamanya dan dia selalu mengawasimu.

 

Bagaimana jika kita hidup di zaman Bung Besar ? Akankah kita lebih bahagia ? Tetapi kita pernah hidup di era seperti Bung Besar. Saat itu bernama era reformasi. Tidak segila Bung Besar memang namun tetap memberi trauma tersendiri yang tersimpan secara rahasia hingga kini.

 

Perang adalah damai

Kebebasan ialah perbudakan

Kebodohan ialah kekuatan

 

“STUDENT HIDJO”

“STUDENT HIDJO”

Penulis                : Mas Marco Kartodikromo

Penerbit              : Pustaka Promethea

Tebal                   : 163 halaman

Genre                  : Prosa lawas Indonesia

 

Jpeg

Student Hidjo bercerita tentang usaha Hidjo seorang priyayi rendah yang berpendidikan H.B.S setingkat SMA untuk mengubah keluarga bahkan bangsanya melalui pendidikan. Sang ayahanda menghendaki anaknya melanjutkan pendidikan lebih tinggi di Eropa agar bisa menjadi insinyur atau sarjana. Demi menaikan derajat keluarga dan demi mengurangi penghinaan dari saudara yang telah menjadi masyur hidupnya. Lagipula Mas Hidjo sendiri dianggap cerdas dan berbudi baik hingga membuatnya dipanggil “pendito” oleh teman-teman pergaulannya. Sang ibunda tak rela anak satu-satunya pergi jauh darinya.  Sang ibu cemas setengah mati mengingat di Belanda sana budayanya yang bebas dan kromo yang tidak seperti di Jawa bisa membuat Hidjo celaka. Apalagi Hidjo sendiri rencananya bakal menikah dengan saudara sepupu, Raden Ayu Biru. Hidjo sendiri terlihat menyetujui dan senang bila dapat menikah dengan gadis ayu yang digambarkan seperti bidadari itu. Namun, jika nanti Hidjo hidup seperti laiknya para pemuda-pemudi Eropa yang gemar main perempuan bisa-bisa rencana pernikahan kandas. Itulah ketakutan sang ibunda.

Tapi akhirnya dengan berat hati sang ibu melepaskan sang anak juga untuk berlayar ke Delf, Belanda demi menempuh pendidikan.

Baik ibunda dan R.A Biru teramat sedih setelah Hidjo pergi dan akan kembali lagi ke Hindia 7 tahun lagi. Saking sedihnya mereka menjadi sakit. Maka pergilah mereka karena sakitnya ke tempat pemandian dimana dipercaya bahwa tempat pemandian sacral itu mampu mengusir penyakit. Berhasil, mereka menjadi sembuh saat mereka berada disana tapi ternyata bukan karena pemandian itu melainkan karena pertemuan dengan teman Hidjo yang ternyata juga menyukai Hidjo, R.A. Wungu. Anak keluarga priyayi yang memiliki jabatan bupati Djarak.

Berawal dari pertemuan tak terduga di pemandian itu, dua keluarga priyayi ini menjalin hubungan akrab. Ibunda Hidjo dan R.A Biru diajak untuk singgah di Djarak untuk mengikuti pesta ulang tahun Raden Tumenggung. Di rumah sang bupati itulah R.A Biru dipertemukan oleh saudara laki-laki Wungu yang nantinya jatuh hati dengannya. Undangan keluarga Djarak dibalas oleh keluarga Hidjo.

Sementara itu Hidjo yang hidup di Belanda menghadapi tantangan hidup pergaulan muda-mudi Eropa yang berbeda dari budaya Jawa. Ditambah Betje anak dari tuan rumah yang menampung Hidjo jatuh hati kepadanya. Betje yang tak menyerah untuk mendekati Hidjo. Hingga Hidjo pada akhirnya masuk ke kamar sebuah hotel bersama dengan Betje.

Di akhir cerita Hidjo tidak jadi menikah dengan R.A Biroe melainkan dengan…. Dan Hidjo kembali ke Indonesia tanpa membawa gelar yang sudah diharapkan keluarganya

Student Hidjo adalah salah satu sastra yang masuk ke dalam 100 buku sastra yang patut dibaca sebelum musnah. Tidak seperti kebanyakan sastra lain yang membutuhkan waktu untuk berpikir keras agar dapat memahami atau dapat menempelkan cerita di dalam kepala. Akan tetapi beberapa bahasa Belanda yang senagaja tak diubah agak sedikit mengganggu, karena saya pasti akan berhenti untuk mencari atau mengingat lagi arti dalam bahasa Indonesianya.

Setiap sastra selalu memberi pemahaman baru atau wisdom baru. Student Hidjo ini menggambarkan  sikap khas orang Jawa dengan tata karma atau kesopanan yang layak dibanggakan di zaman itu. Sikap  menjujung tinggi kesetaraan, semua pada hakekatnya sama dan harus sama rata dalam memberikan penghromatan. Dari Student Hidjo ditemukan juga  bahwa kecerdasan saja tidak cukup untuk menjadi seorang manusia unggul. Manusia butuh memiliki budi pekerti yang akan mengontrol perilaku manusia agar tidak berbuat semena-mena kepada semua.

Peristiwa menarik dan penuh kesan moril adalah saat Hidjo tiba pertama di negri Belanda, lalu saat menonton drama Faust dan saat seorang sersan yang benci dengan Hindia dibungkam oleh sesama Belanda juga yang mempunyai penilaian baik terhadap Hindia.

 

Review : Novel GENDUK

PENULIS                  : Sundari Mardjuki

PENERBIT               : Gramedia Pustaka Utama

TEBAL BUKU          : 228 halaman

GENRE                      : Novel

Tahun                         : 2016

 Sebuah cerita dengan latar kehidupan petani tembakau tahun 1970an di lereng gunung Sindoro. Berkisah tentang seorang gadis desa yang mencari keberadaan bapak yang tak pernah dilihatnya. Genduk begitulah gadis gunung itu dipanggil. Hidup bersama seorang ibu yang dingin nan tangguh. Memiliki fisik yang tidak dimiliki ibunya. Yang membuat lelaki mulai dari preman hingga seorang anak kepala desa terpikat padanya. Menyukai puisi dan akan menulis puisi jika dia mengalami masa-masa terlalu; sedih, bingung, bahkan senang. Sungguh nikmat puisinya. Seorang gadis desa yang juga mempunyai mimpi sederhana (bertemu si bapak) yang akhirnya harus merubah mimpi itu. Seorang gadis yang harus berjuang tetap bahagia sekalipun sekelilingnya tampak tidak mendukungnya. Seorang gadis yang sangat sayang pada ibunya yang dingin, pamannya sebagai pengganti si bapak, dan sang kakek yang kadang membuatnya gundah. Dia sama seperti gadis-gadis desa lainnya yang berangan menjadi seperti Cinderela. Dia sama seperti anak-anak desa yang menyukai gula-gula, pertunjukan komedi putar atau pasar malam meskipun sekedar melihat dari pagar pembatas. Dan nasib mengantarkannya pada sebuah perjuangan. Nasibnya menjadi anak yatim, nasib menjadi orang miskin bahkan terlalu miskin, nasib untuk dinodai, nasib memiliki ibu yang acuh.  Suasana panas Gestok ikut serta dalam kisah Genduk.  Semua hal tersebut menjadi bumbu dari sebuah inti kisah seorang gadis yang memendam kerinduan, kemarahan,  kecemburuan, kehilangan, rasa ditinggalkan pada seorang bapak.

Apakah genduk berhasil menemukan si bapak ? Coba telusuri kisahnya.

Novel ini terbilang pendek dengan jumlah halaman kurang dari 250. Namun, meski demikian novel ini tetap enak untuk dinikmati. Novel ini mampu membuat saya merasa ikut menikmati suasana pegunungan Sindoro, jernihnya air sungai pada musim hujan, juga kotornya sungai saat musim kemarau, suasana bermain di malam hari oleh anak-anak, suara gangsing yang liar. Saya merasa novel ini akan cucok bagi mereka yang suka hidup dengan alam.

Hiperbola di dalam novel tidak terlalu banyak dan sederhana saja sehingga bagi saya yang sulit memahaminya tidak perlu bersusah payah untuk berpikir akan maksud dari kiasan tersebut. Tidak berputar-putar yang bikin mumet. Adapun puisi atau rampalan doa dalam novel tidak hanya untuk menambah-nambah tebal melainkan untuk menebalkan emosi cerita. Seperti menegaskan bahwa kehidupan wong gunung di zaman dulu ya begitu. Kalau meminta restu ritualnya seperti itu.

Dan ada beberapa adegan cerita yang membuat saya tertawa sendiri, misalnya ketika muncul Gusti pengecat lombok. Menjadikan kisah ini tidak kaku dan serius sehingga tidak membosankan.

Bahasa Jawa ngapak yang kadang dipakai dalam cerita kadang membuat saya bingung dan bertanya-tanya benarkah penulisan bahasa ini, seperti saman yang artinya anda atau kamu. Klimaknya cerita adalah perjalanan Genduk mencari si bapak, namun entah mengapa muatan emosi yang semestinya tebal tidak terjadi. Saya juga merasa cerita ini sepertinya belum berakhir, atau sebuah akhir yang membingungkan saya mengapa berakhir pada serinthil. Ah sudahlah cerita sudah berakhir.

Inilah salah satu novel yang masuk nominasi 10 besar Kusala Sastra Katulistiwa ke 16 (2016) untuk kategori prosa. Salah satu alasan saya mau membeli dan membacanya ditambah lagi nama penulisnya juga tidak familiar sehingga timbul penasaran. Saya tidak kecewa setelah membawa dan menikmatinya.

Kalimat-kalimat apik yang saya dapatkan :

“Nduk cucuku yang kinasih, dalam dunia yang penuh tipu muslihat, kita tidak pernah tahu siapa kawan siapa lawan. Semua orang bisa menjadi korban bahkan orang tidak berdosa sekalipun. Dunia ini tidak hitam-putih. Tidak merah pun tidak putih. Tidak merah pun tidak putih. Semua mempunyai sisi kebenaran. Politik nduk… Semua bisa dibolak-balik demi kepentingan politik.”

“Kawruhana sejatine urip, Urip ana jroning alam donya, bahasane mampir ngombe……. umpama lunga sesanja, najan-sinanjan ora wurung bakal mulih, mulih mula-mulanya.”

RESENSI -Novel O-

Jpeg
Jpeg

 

Judul Buku             : O

Penulis                     : Eka Kurniawan

Tahun                       : 2016

Penerbit                   : Gramedia Pustaka Utama

Tebal buku              : 470 halaman

Genre                         : Novel (sastra dewasa)

 

Buku berjudul satu huruf bercerita tentang seekor monyet yang bermimpi  menjadi manusia. Kisah berawal dari sepasang kekasih (monyet) yang memiliki kepopulerannya masing-masing di sebuah penangkaran atau kandang monyet bernama, Rawa Kalong.      Si monyet jantan, Entang Kosasih sangat terobsesi menjadi manusia mengikuti jejak si monyet pahlawan legenda, Armo Gundul. Dari monyet-monyet tua Entang Kosasih mendapat cerita tentang Armo Gundul. Dongeng yang berakibat pada obsesi yang ditentang pula oleh para monyet tua terhormat di tempatnya. Obsesi berujung pada kegilaan dan peristiwa tragis. O, monyet betina muda adalah satu-satunya monyet       yang berusaha untuk percaya pada impian Entang Kosasih, hanya karena tidak ingin kehilangannya.

Sampai suatu peristiwa Entang Kosasih mendapatkan revolver. Benda mati  namun tampak memiliki hidup di dalam cerita ini. Revolver yang setia juga sayang pada majikannya seorang polisi dengan nasib sialnya sendiri. Revolver menjadikan si monyet gila bertambah gila mengubahnya menjadi pembunuh termasuk dirinya sendiri karena kesombongan bodohnya. Namun, mulai dari sanalah kisah monyet menjadi manusia dimulai. Entang Kosasih tidak ditemukan mati saat peluru si polisi menghajar batoknya, melainkan menjadi manusia sesuai dengan obsesi gilanya. Itulah keyakinan O yang masih seeokor monyet.

O memulai petualangan menemukan kekasihnya dan kembali hidup bersama seperti di Rawa Kalong, dengan nasib seperti rencananya yaitu, menjadi pemain topeng monyet. Rencana didapatkan O  setelah mendengar perkataan para monyet juga Entang Kosasih sendiri, bahwa melalui topeng monyet seekor monyet merasakan menjadi manusia. Topeng monyet adalah satu-satunya cara bagi para monyet untuk bisa menjadi manusia dengan memahami perialaku mereka. Di sini O bertemu dengan mahluk yang memiliki kisahnya sendiri-sendiri.

Kirik, anak anjing penuh kudis yang sedang bertugas mencari ibu satu-satunya. Beta Lumur, sang pawang mata duitan dengan hobi memasukan kepala pada sebuah ember berisi minuman oplosan. Kakaktua, saleh yang tersesat karena kesesatannya. Sepasang pengemis tua yang peduli pada O juga kakak tua sejak menjadi tetangga. Manikmaya, seekor tikus peramal yang berakhir karena cinta. Mimi Jamilah, seorang pengamen jalanan juga waria manusia terakhir yang menampung O. Semua dijumpai O hanya untuk satu misi mengubah tubuh monyetnya menjadi manusia sehingga O dapat kembali bersama kekasihnya Entang Kosasih.

Selain itu terdapat pula dua orang sahabat berprofesi sebagai polisi kecil, mengingat tugasnya tidaklah penting malahan remeh seperti bertugas di penampungan monyet. Dara, seorang wanita dengan daya tariknya sendiri setidaknya bagi si Polisi. Toni Bagong, seorang preman dulu berhasrat menjadi polisi sekaligus suami belum resminya Dara. Jarwo Edan, preman yang lain dengan kesukaan pada anjing terkhusus pada dagingnya. Rudi Gudel, sahabat Jarwo yang mengemban tugas mulia membalaskan dendam sang sahabat.  Mimi Jamilah  anak seorang pedagang yang tergila-gila pada anjing juga membuat seorang Jarwo tergila-gila padanya sejak pertemuan pertama.

 Masih ada tokoh lain menambahkan rasa pada buku ini seperti kaisar dangdut yang ternyata adalah…, Jamila si penunggu telepon panas itu. Marko, suami Rini Juwita juga seorang sosok ayah kejam terhadap anjing dan harus berakhir hidupnya ditangan anjing. Leo, nama anjing itu. Mama Inang, pengasuh sang kaisar dangdut untuk terus menyihir penggemarnya. Rohmat Nurjaman, seorang pemuda lainnya dengan kesengetinnya pada musrik.

Semua tokoh memiliki kisahnya sendiri-sendiri. Pada saatnya para tokoh cerita pada gilirannya diberikan babaknya masing-masing untuk membeberkan daya tarik mereka. Meski cerita para tokoh terpisah-pisah peran mereka tetap berhubungan dalam kisah ini. Eka Kurniawan tetap mempertahankan suasana Indonesia di dalam novel terbarunya. Mulai dari pemberian nama tokoh. Mengangkat dangdut menjadi tema cerita yang dibumbui dengan kehidupan msitis. Sedikt memasukan suasana kehidupan masyrakat kelas bawah dan masyarakat kelas atas di kota besar. Seperti biasa pula ada cukup banyak kata umpatan dalam karya Eka Kurniawan (belum melebihi “Lelaki Harimau). Namun bukan untuk disimpan guna menambah kamus kata umpatan si pembaca melainkan untuk menghidupkan suasana cerita. Saya menyebutnya umpatan yang disekolahkan sastra oleh Eka sehingga sah-sah saja.

Seperti kebanyakan novel cerita tentang si monyet juga terdapat pelajaran-pelajaran hidup. Seperti mencoba menjadi orang lain hanya akan menyusahkan diri. Setiap mahluk sudah alamiah memiliki potensi masing-masing untuk saling mendukung kelangsungan hidup mahluk lainnya. Kesetiaan sejati akan siap menerima setiap kelemahan masing-masing. Juga tentu saja tentang impian dan konsekuensinya. Novel O salah satu bacaan rekomendasi guna menjaga kelangsungan hidup bahasa Indonesia. Imajinasi Eka Kurniawan bukan hanya milik si empunya penulis tapi juga milik pembaca novel ini.

 Inilah karya salah seorang maestro sastra Indonesia masa kini di awal tahun 2016. Sangat direkomendasikan untuk dibaca para pembaca dan silakan dapatkan kenikmatanmu sendiri.

#ayomembaca

“A master novelist not be missed”-Oprah.com

(Review) Dalih Pembunuhan Massal -Book-

      1460783483839

Judul Buku                   :Dalih pembunuhan massa

Penulis                          : John Rossa

Penerbit                         :Hasta Mitra

 Tahun                             :2008

Tebal Buku                      :374 halaman

 Genre                                :Sejarah

Apakah kamu menyukai film-film detectif? Saya sendiri suka, seperti serial anime detectif Conan. Jika kamu menyukai maka buku ini saya anggap cocok untuk kamu.

Buku dalih pembunuhan masal adalah salah satu tulisan dari sekian banyak buku mengenai peristiwa gerakan 30 september. Peristiwa G-30-S hingga kini masih menjadi misteri. Kebenaran akan peristiwa terburuk di Indonesia ini masih samar-samar. Sekalipun telah banyak sumber yang mencoba memberikan kesaksian atas G-30-S.

Balik lagi ke detektif, tragedi G-30-S mungkin hanya bisa dipecahkan oleh detectif semacam Conan atau Sherlocks Holmes. Namun tidak mungkin karena mereka hanya cerita  fiksi. Akan tetapi, cara-cara pendekatan detectif dalam memecahkan kasus dapat dipakai dalam kasus G-30-S. Paling tidak untuk menemukan sedikt saja titik terang yang dapat menceritakan suasana sebenarnya di tahun 1965 tersebut.

Maka hadirlah buku ini bukan sebagai pembenaran melainkan sebagai petunjuk dari tragedi berdarah G-30-S. Mengapa saya katakan petunjuk ? Pertama,  sejahrawan internasional ini menggunakan kepingan-kepingan bukti langka dan dicurigai sebagai pembawa kesaksian tentang G-30-S. Kedua, sampai dengan bab yang terakhir (bab 7) penulis tidak memutuskan sebuah pernyataan, seperti menujuk terdakwa dalang G-30-S atau tujuan sebenarnya dari  G-30-S.  Dapat dikatakan John Roosa sengaja untuk membiarkan pembacanya untuk menarik kesimpulannya sendiri.

Buku ini juga hadir sebagai bentuk kritik atas kebohongan yang dibenarkan bertahun-tahun lamanya terkait G-30-S. Seperti tujuh jenderal yang dibunuh secara sadis (disilet-silet kemaluannya oleh Gerwani, lalu dimutilasi), aktivis PKI mulai dari kader tertinggi hingga petani kecil di desa adalah pembunuh sadis, dan lain-lain. Kebohongan  mengakibatkan terjadinya diskirminasi, penindasan besar-besaran termasuk pembunuhan masal kepada aktivis dan keluarga yang (dianggap) PKI.

Isi buku dalih pembunuhan massal terdiri dari tiga bagian, yaitu : bagian latar (dimulainya kecurigaan atau kejanggalan) pada bab I & 2, lalu sekumpulan dokumen (dianggap sebagai petunjuk) guna menjelaskan kronologis pada bab 3-6, dan endingnya bab 7, seperti halnya detective penulis merancangkan kembali “kisah sebenarnya” dalam bentuk narasi linier. Inilah cara sejahrawan mengungkap teka-teki masa lalu.

Dalam bab pertama, “kesemerawutan fakta” adalah bab yang berisikan kejanggalan-kejanggalan mencurigakan dalam awal mula gerakan ini. Seperti komposisi pasukan, pengumuman penting dalam radio, letak posisi Soekarno, dan suasana di Kostrad yang biasa saja (markas Soeharto).

Dalam bab kedua , “penjelasan tentang G-30-S” merupakan pendekatan hipotesa mengenai untuk apa sebenarnya G-30-S. Apakah mungkin G-30-S sebagai usaha kudeta PKI, ataukah G-30-S ini sebagai persekutuan antara jenderal junior angkatan darat dan PKI guna melindungi Soekarno, ataukah G-30-S dipakai sebagai alat para jJnderal senior AD juga Soeharto untuk menyingkirkan PKI serta mendongkel Soekarno.

Pada bab ketiga”dokumen Supardjo”, kepingan petunjuk pertama. Supardjo adalah orang kedua yang namanya disebutkan dalam siaran radio 1 Oktober 1965. Namun, anehnya Supardjo tidak paham apa sebenarnya tujuan gerakan ini. Beliau baru bergabung dengan kelompok sehari sebelum pelaksanaan. Artinya beliau tidak sempat mengikuti jalannya rapat gerakan. Mengingat tujuannya sama yaitu menyelamatkan Soekarno dari Dewan Jenderal, Supardjo percaya saja rencana mereka. Kemudian Supardjo adalah Perwira tertinggi diantara anggota G-30-S mengapa bukan beliau yang memimpin mengingat jejak rekor hebatnya saat memegang komando.

Pada bab keempat “Sjam dan Biro Chusus”, merupakan perwakilan PKI langsung dalam gerakan ini. Sjam adalah sosok kepercayaan D.N. Aidit (ketua PKI), tapi dicurigai pula sebagai agen intelijen angkatan darat. Sjam-lah yang mengkoordinir jalannya gerakan      G-30-S lalu diterjemahkan oleh Soeharto dan Angkatan Darat, bahwa semua relawan serta afiliasi PKI terlibat. Biro Chusus sendiri merupakan tim intelijen PKI yang juga berhubungan secara rahasia dengan Angkatan Darat. Anehnya banyak anggota bahkan sampai dewan pimpinan tidak mengetahui keberadaan BC.

Pada bab kelima “Aidit, PKI, dan G-30-S”, merupakan pemaparan apakah Aidit selaku pimpinan PKI memegang peran penting. Ternyata di dalam bab ini Aidit digambarkan seperti sosok pemimpin yang dikelabui oleh orang kepercayaannya, Sjam. Peran Aidit hanya sampai menyetujui karena beliau “percaya” kematangan rencana Sjam.

Pada bab keenam “Soeharto, Angkatan Darat, dan Amerika Serikat. Dalam bab ini diceritakan terdapat kubu kontra-Soekarno yaitu angkatan Darat dengan Amerika dibelakangnya. Mereka disebut dengan nama dewan jenderal. Dewan jenderal tidak menyukai Soekarno yang dianggap dipengaruhi PKI (padahal tidak). Juga geram dengan kekerasan Soekarno untuk menasionalkan perekonomian negara (tidak ada investasi asing), disebut politik bebas aktif. Amerika Serikat yang sudah mengincar kekayaan alam Indonesia cemas bahwa mereka akan kehilangan negara berpotensi se Asia Tenggara ini. Maka mereka (dewan jenderal dengan Amerika) merancang suatu aksi rahasia (entah apa) untuk mengatasi Soekarno dkk.

Pada bab ketujuh,”menjalin cerita baru”. Semua dokumen dari setiap bab dirangkai kembali sehingga menjadi sebuah kisah yang mendekati kronologis G-30-S. Kegagalan

G-30-S dapat terjadi karena ketidakcakapan Sjam sebagai organisator, bisa juga karena rencana gerakan yang tidak berjalan dengan lancar, seperti terbunuhnya tiga jenderal dan lolosnya Yani (target penting), ketidaksamaan informasi mengenai aksi dan tujuan gerakan ini khususnya oleh pelaku (gabungan wakil PKI dan wakil angkatan bersenjata pro Soekarno), hingga peran Soeharto dan beberapa dewan jenderal yang sudah mengetahui bahkan ikut merencankan gerakan gagal ini sehingga dapat dipakai sebagai jalan untuk mengambil kekuasaan penuh.

Sekali lagi buku ini adalah penjelasan alternatif lain tentang G-30-S. Namun pendekatan cerita dalam buku (seperti detektif) dengan menggunakan bukti-bukti langka dan teliti menjadikan buku ini beda dari unik.

Selamat membaca dan selamat menemukan pandangan.