RASHOMON  

 

Judul : RashomonPenulis : Akutagawa Ryunosuke Penerbit: KPG Tahun: 2008, cetakan pertamaTebal Buku: 167 halamanPenerjemah: Bambang Wibawarta Udiani │Penyunting : Candra Gautama Perancang sampul : Rully Susanto │Penata Letak : Wendie Artswenda Rating :  8/10 

No ISBN-13 : 978-979-91-0093-1   ISBN-10 : 979-91-0093-2

Jepang menarik bukan hanya karena Miyabi, Oda sensei (pencipta anime One Piece), atau AKB48. Jepang juga punya orang besar dalam dunia penulisan sastra. Salah satunya Akutagawa Ryunosuke. Coba bacalah kumpulan cerpen termasyurnya ini. Tak bakal di temukan cerita romantis yang manis-manis.

Dalam kumpulan cerpennya ini kita akan melihat sisi kegelapan manusia. Dimana manusia lebih senang untuk selamat sendirian. Bahkan manusia seolah menjadi gila karenanya. Terkadang akan ditemukan pula kebaikan serasa tak cocok untuk menyelamatkan manusia yang pada dasarnya memang degil.

Hanya ada 7 cerita pendek dalam buku Rashomon. Beberapa judul diantaranya diceritakan dengan cukup panjang seperti Kappa dan Bubur Ubi.

1.Rashomon

Genin untuk  yang baru saja dipecat akhirnya berhasil melawan keraguannya untuk merampas pakaian yang dikenakan nenek tua yang sebelumnya juga telah membunuh orang. Genin awalnya ragu karena awalnya Genin ini terbiasa dengan kebaikan, tapi demi perutnya yang tak ingin lapar, dia merampas pakaian indah si nenek.

2. Di dalam Belukar

Mana yang benar ?  Seorang pria ditemukan tewas di dalam belukar. Pelaku pembunuhan belum jelas meskipun sudah banyak kesaksian. Semua saksi menujukan pelaku yang berbeda-beda. Termasuk menganggap korban sendiri sebagai pelaku pembunuhan.

3.Kappa

Ada manusia yang lebih nyaman hidup bersama Kappa, sejenis hewan seperti katak. Si manusia yang kembali ke dunia manusianya merasa asing dan hanya ingin kembali ke dunia Kappa. Mungkin dunia Kappa lebih baik lebih jelas.

4. Bubur Ubi

Seorang samurai kelas rendah, Goi dengan keadaan diri yang juga dianggap rendah oleh mata yang memandanganya ingin memuaskan dirinya dengan memakan bubur ubi. Lalu saat kesempatan untuk bisa makan bubur ubi sepuasnya datang, si Goi yang sudah kekenyangan merasa tak bahagia.

5. Benang laba-laba

Seorang pendosa yang tinggal di dalam neraka diberi kesempatan oleh Sang Budha untuk keluar dari penderitaan neraka dengan seutas benang emas laba-laba. Budha mempertimbangkan satu kebaikan yang pernah dilakukan si pendosa ini. Tapi yang terjadi sang pendosa tak sanggup memanfaatkan kesempatan baik dari Budha. Si Pendosa jatuh kembali ke dalam neraka saat ia kendekian dan keserakahan menguasai dirinya.

6. si Putih

Seekor anjing bernama Shiro lari tanpa menengok kebelakang meninggalkan kawan akrabnya yang berada dalam bahaya. Sejak saat itu Shiro tak lagi dikenali pemiliknya, terusir lalu putus asa. Shiro ingin menamatkan hidupnya tapi selalu gagal. Keinginannya untuk bunuh diri malah menjadikannya sosok hero yang dibicarakan banyak orang. Sampai akhirnya ia kembali ke pada majikannya dengan harapan ia bakal mati di tangan tuannya. Tapi lagi keinginan untuk mati tak terpenuhi sebab majikannya kembali memeluknya.

7. Hidung

Seorang pendeta memiliki hidung dengan panjang 16 cm membuatnya resah. Si pendeta merasa orang-orang disekitarnya pasti lah menganggap dirinya hina. Walaupun begitu si pendeta tak pernah menunjukkan kegelisahan dan ketidakbahagiannya sebab dia pendeta. Dia menyimpan dengan baik kegelisahan dan keresahannya. Suatu waktu si pendeta berhasil membuat hidunya kecil normal setelah melakukan saran dari tabib muridnya. Seharusnya si pendeta tak perlu resah dan merasa rendah lagi sebab hidungnya kini tak lagi panjang menjuntai. Tapi rupanya justru saat hidungnya mengecil banyak orang termasuk muridnya yang terang-terangan menertawakannya. Kembalilah si pendeta resah dan gelisah sekaligus menyesal. Pendeta menginginkan hidungnya bisa penjang kembali seperti awalnya karena ia merasa lebih baik pada masa itu.

Baru dalam buku ini saya menemukan ada cerita pendek yang begitu panjang. Untuk ukuran cerita pendek buku ini cepat mengena inti setiap ceritanya. Mungkin karena nafas dalam buku ini mengenai moralitas atau perilaku manusia. Terjemahannya baik dan tidak menghilangkan istilah-istilah khusus dalam bahasa Jepang menjaga cerita pendek tetap seperti aslinya. Buku yang layak berada dalam rak sastra untuk kemudian dibaca ulang.

30 November 2018

Iklan

Cinta Tak Pernah Tepat Waktu

Judul: Cinta Tak Pernah Tepat Waktu│Penulis: Puthut EA│Penyunting: Eka Kurniawan│Pemeriksa Aksara : Prima S. Wardhani │ Perancang sampul : Kartiko Prawiro & Narto Anjala │ Penerbit: Buku Mojok, Cetakan Kelima, 2016 Tebal Buku: 263 halaman Rating :  8 /10

No ISBN : 978 – 602 – 1318 – 27 – 0

p_20170127_131843.jpg

Saya telah membaca buku Cinta Tak Pernah Tepat Waktu sebanyak tiga kali. Tak bosan dan memang perlu dibaca ulang jika situasinya “PAS”. Maksudnya PAS adalah saat keadaan saya kurang lebih mirip dengan si tokoh Aku dalam cerita ini. Seperti memiliki teman yang bernasib sama saja. Mungkin ini bisa dijadikan salah satu tips dalam mencari buku bacaan. Carilah buku bacaan yang temanya sesuai dengan keadaanmu pada saat ini. Saya sih begitu.

Buku Puthut EA, yang sudah dicetak kesekian kalinya ini bukan buku berat yang butuh waktu berminggu-minggu untuk ditandaskan. Ceritanya sederhana dan tampak dekat dengan keseharian kita. Apalagi jika kamu, Pria.

“Aku bukan playboy . Aku hanya orang yang tidak kenal menyerah, dan tidak beruntung. “ (hal 15)

“Mengapa kebanyakan laki-laki terlalu kekanak-kanakan di dalam menghadapi masa lalu mereka ya ?” (hal 22)

Ceritanya  mirip buku catatan diary seseorang. Catatang tentang perjalanan cinta yang tampak sial dan naas dari si Aku. Dalam ceritanya si Aku selalu mencoba mengobati luka dengan cara mencari pacar. Hasilnya selalu gagal malah membikin keadaan si Aku bertambah buruk.

“Masa kelam untuk si tokoh aku lebih bisa di dapatkan pada  halaman 162-167, tragis. Si Aku kemudian bergantung pada obat penenang aka psikotropika.”

Disaat si aku mulai sakit ia dtolong oleh sahabat-sahabat terbaiknya. Para sahabat setia menemani memberi semangat berjuang menyelamatkan biduk kecil yang hampir karam. Metode para sahabat untuk menyelamatkan si aku agak unik tapi setidaknya hasilnya baik. Tokoh aku perlahan mulai kembali walau harus diakui ia belum sembuh benar.

“Kesalahan yang tidak ingin kuulang ; memindahkan keresahan hatiku dengan pacaran lagi. (hal 121)

Hingga suatu saat si Aku menemukan sebuah cara untuk mengobati dirinya. Ketika si Aku dengan keadaannya berkunjung ke tempat Tante Wijang. Tante Wijang yang tidak menikah itu memberi wejengan yang patut dikutip. Selanjutnya tinggal usaha si Aku sendiri untuk memutuskan.  Bukan cara yang mudah yang dapat langsung menghilangkan lukanya dalam sekejab. Si Aku masih dalam proses.

“Ibarat seorang atlet yang cedera, seharusnya disembuhkan dulu luka itu, baru ia berlatih lagi dan bertanding lagi. Sebab, jika ia terluka dan tetap berlatih serta bertanding, kamu akan semakin terluka, bahkan jika kasus itu sepertimu, bisa melukai orang lain.” (hal 185)

 

Eh ujung-ujungnya si Aku balikan lagi dengan si Lia.

Saya menyukai novel ini dan tentu saya secara subjektif memberi nilai tinggi untuknya. Sederhana tapi bukan sembarang picisan. Namun saya menyayangkan ada plot-plot cerita yang buat saya agak meganggu alur utama cerita ini, seperti saat si AKu pergi mengunjungi tempat teman-temannya. Agak tak terlalu penting menurut saya. Namun secara keseluruhan saya suka novel ini dan wajib ada dalam koleksi buku kesayangan.

Saat teringat KAMU

Bandar Lampung, 24 November 2018

“ANNA KARENINA (1)”

“keluarga bahagia mirip satu dengan yang lainnya, keluarga tak bahagia tidak bahagia dengan jalannya sendiri-sendiri.” (halaman 1)

Ketertarikan saya pada novel Anna Karenina bermula saat saya membaca Gun, Germ, and Still karya Jarred Diamond. Di buku Jarred Diamon, ada bab yang dibuka dengan kutipan dari bagian cerita Anna Karenina. Buku ini semakin ingin saya miliki karena banyak pembaca yang merekomendasikan Anna Karenina sebagai bacaan wajib. Sebagai penyuka sastra maka karya Leo Toltstoi, sastrawan Russia tak bisa dilewatkan. Ada tiga karya besar Leo Tolstoi yang diakui penikmat sastra dunia yaitu ;Kebangkitan, War and Peace, dan Anna Karenina. Sebagai anak baru penyuka buku-buku sastra tentu saja saya penasaran dengan salah satu karya terbaik Leo Tolstoi, Anna Karenina.

Buku ini saya dapatkan dari lapak daring asal Medan, @PendjoalBuku. Pada waktu itu  Anna Karenina belum dicetak ulang. Padahal peminatnya banyak. Harga mahal dari harga aslinya tak menjadi soal untuk memboyong buku ini.  Saya hanya beruntung bisa mendapatkan buku ini yang memang bekas tapi karena mantan koleksi pribadi si penjual kondisinya masih sangat baik. Harganya pun tidak terlampau mahal, selisihnya dengan cetakan kedua amat dekat. Saya tak menyesal. Seperti kolektor pada umumnya begitu buku ini tiba di rumah. Saya tak langsung membacanya. Buku ini saya simpan dan baru beberapa bulan kemudian, saat Anna Karenina terjemahan dicetak ulang KPG, saya baru mulai membaca. Ini pun baru satu jilid, artinya masih belum tamat.

2018-07-19 11.19.09 1.jpg

Buku Anna Karenina 1 bercerita tentang kehidupan bangsawan lama di Rusia. Diwakili oleh kehidupan Anna Karenina. Seorang wanita elegan, tangguh, selalu menarik perhatian, cerdas, dan penyelamat. Anna Karenina muncul pertama saat sebuah keluarga Oblonksi berada dalam kekacauan. Oblonski dan istrinya terancam perceraian karena adanya perselingkuhan. Stepan Arkadyich, merupakan saudara kandung Anna, jadi wajar jika Anna menolong demi keutuhan keluarga ini. Hasilnya Anna berhasil membujuk Dolly untuk tetap bertahan dan memaafkan saudaranya itu.

Di awal kemunculan Anna, kita akan mengira bahwa Anna perempuan luar biasa apalagi dia telah menyelamatkan sebuah keluarga yang mendekati kehancuran. Kenyataannya Anna Karenina tidak sebaik yang dikira atau diharapkan. Seorang perempuan elegan ternyata juga menyukai dan berhubungan dengan pria yang bukan suaminya. Sebab bersama suaminya Anna merasa tidak menjadi seorang yang jujur, Anna tidak bahagia bersama suaminya, walau mereka telah dikarunia seorang anak.

“Suami biasanya bercerita pada istrinya tentang kehidupan masa lalunya, (halaman 84)

Namun, Vronski yang diterima Kitty rupanya tidak serius dengan perasaannya. Dia hanya ingin membuktikan kejantanannya tapi tidak ingin terikat (menikah) dengan Kitty. Ketika secara tidak sengaja bertemu Anna Karenina di pesta dansa. Vronski mulai melupakan Kitty. Vronski memilih untuk mendekati dan mendapati Anna.

“Aku mencintainya, dan aku menghormati semua yang ingin mengenal diriku.” (halaman 107)

Hubungan dekat antara Anna dan Vronksi tak hanya menyakiti suami Anna, Alexei Alexandrovich, juga menyakiti Dolly hingga Dolly terkena penyakit karena kesedihan yang mendalam. Anna Karenina siap dengan akibatnya yang bakal dia dapatkan dari suaminya. Anna yang merasa selama ini dalam perkawinannya tersiksa batin merasa punya alasan untuk tetap memilih dan mencintai Vronksi. Kelakuan Anna membuat malu suaminya Alexei Alexandrovich, seorang bangsawan terhormat yang bekerja di kejaksaan. Alexei Alexandrovich bimbang bercampur kesal dengan keadaan ini. Dia ingin memberi Anna kekalahan. Jalan satu-satunya seperti yang diharapkan Anna adalah perceraian. Namun Alexei Alexandrovich masih belum rela dan ngeri membiarkan Anna bersama selingkuhannya menang.

Levin Konstantin memiliki kakak Nikolai Levin, seorang pria yang sudah sakit-sakitan menunggu datangnya kematian. Levin diberi warisan berupa lahan yang banyak dan luas untuk digarap.  Hubungan Levin dengan kakaknya Nikolai tidak bagus. Nikolai selalu mencurigai dan berprasangka buruk kepada Levin. Levin sendiri memiliki masalah dengan para pekerja di ladangya. Para petani dan pekerja bekerja sesuka hati mereka mengakibatkan kerugian pada Levin. Padahal Levin sudah begitu baik hati kepada mereka, memberikan kebijakan-kebijakan yang meringankan beban para petani. Untuk bisa mengatasi para pekerjanya Levin pergi ke luar negri untuk belajar soal pertanian dan melihat bagaimana para buruh dan petani diperlakukan. Pengalaman-pengalaman yang nantinya akan mempengaruhi Levin untuk mengatur para pekerjanya.

“Aku senang dengan yang kupunya, aku tidak bersedih dengan yang tidak kupunya.”(halaman 199)

Sebelumnya beberapa bulan lalu ketika Levin di Moscow saat melamar Kitty,dan Kitty menolak Levin. Ada sakit hati yang membuat Levin tak ingin melihat lagi perempuan itu. Namun saat Levin mendengar Kitty sakit dan mendapatkan perawatan hingga ke luar Russia, membuatnya merasa bersalah dan kasihan. Lama Levin tidak menemui Kitty meski Levin mengetahui nasib Kitty yang sedang buruk. Levin berfokus untuk menyelesaikan garapan pertaniannya. Suatu ketika saat Levin berkunjung ke Moscow Levin bertemu kembali Kitty di sebuah acara keluarga bangsawan. Di rumah itu setelah melalui kecanggungan luar biasa akhirnya hubungan mereka berdua pulih kembali.

“Karena itu percayalah, mengenal istri sendiri yang kita cintai berarti lebih mengenal semua perempuan lain daripada kita mengenal seribu dari mereka.”(halaman 383)

Begitulah kurang lebih inti cerita dari Anna Karenina bagian 1 yang masih berlanjut pada buku Anna Karenina bagian 2. Inti yang  terlalu singkat dari buku yang  halamannya berjumlah 500. Cerita Anna Karenina tidak hanya bercerita tentang Anna. Ada tokoh-tokoh lain dengan isi kepala dan perasaan yang berbeda-beda memperkaya jalannya cerita, menghidupkan persolan dalam cerita. Namun Di buku Anna Karenina 1 saya ingin menunjukkan  3 keadaan keluarga (walau Levin dan Kitty belum dianggap telah menjadi keluarga) ; Pertama keluarga Oblonski yaitu Stepan Arkadyich dan Dolly sudah rujuk kembali setelah hampir bercerai sebelum Anna menyelamatkan keluarga ini. Kedua, Kitty yang awalnya menolak Levin, seorang pria yang benar-benar serius padanya berbalik untuk mau menunggu dan mencintai Levin, dan hubungan baru yang baik antara Levin dan Kitty baru dimulai. Ketiga, nasib Anna bersama Vronksi berada dalam ketidakpastian, disaat Anna hampir mendapatkan perceraian dari suaminya, Vronksi bimbang untuk bisa membawa Anna hidup bersamanya.

Penilaian saya benar bahwa buku ini adalah karya besar yang memberi pengaruh pada penulis-penulis sastra dunia. Pergolakan para tokoh baik batin maupun jiwa coba untuk dimunculkan dan dirasi oleh pembaca. Bangunan para tokoh dalam cerita tidak tampak kebetulan ada dalam cerita, melainkan memang disanalah mereka harus berperan dengan tepat.  Saya menemukan Leo Tolstoi tampak mengacak-ngacak moralitas manusia. Tak ada kebenaran sejati, belum tentu yang beragama benar-benar hidup saleh seperti yang dipikirkan orang-orang. Yang paling penting menjaga keutuhan keluarga tidak akan pernah selesai sampai kita meninggalkan dunia. Keluarga harus dijaga jangan dibiarkan tercerai berai. Demikianlah yang saya dapatkan. Agak susah untuk cepat menyelesaikan buku ini dan mendapatkan maksud cerita buku ini.

Apakah di buku Anna Karenina 2, keadaan ketiga keluarga akan berada pada jalur yang sama atau aka nada perubahan. Terutama nasib Anna, di buku Anna Karenina 2 mungkinkah Anna akan lebih bahagia dengan Vronksi bersama dengan segala konsekuensinya. Apakah Alexei Alexandrovich akan benar-benar bisa meninggalkan Anna, merelakan kemenangannya, lalu mendapatkan wanita baru. Apakah konflik batin akan semakin seru ? Hanya Anna Karenina 2 yang bisa memberikan jawabannya.

Judul : Anna Karenina 1│Penulis: Leo Tolstoi│Penerbit :KPG│Tahun: 2007, Cetakan  pertama│Tebal Buku: 504 halaman│Penerjemah: Koesalah Soebagyo Toe│Penyunting : Candra Gautama │ Rating : 9/10

ISBN -13 : 978 – 979 – 91 – 0060 – 3 │  ISBN-10 : 979 – 91 – 0060 – 7

 

Rumah Saja – krinobuku – ayomembaca

 

11 Oktober 2018

PASAR

Pasar

Pasar adalah buku pertama karangan Kuntowijoyo yang kubaca. Kuntowijoyo  merupakan salah satu pendekar sastra Indonesia era 80an. Prof Dr. Kuntowijoyo dari namanya yang telah di bubuhi gelar menunjukkan bahwa beliau juga salah satu ilmuwan yang produktif. Maka tak heran beliau bisa membuat karya-karya yang dikategorikan apik. Dan berpengaruh pada kazhanah sastra Indonesia. Buku-bukunya cukup popular di zamannya,  juga banyak dicari oleh generasi di bawahnya. Pernah sebelum Mata Angin dan Mata Bangsa menerbitkannya buku-buku Kuntowijoyo dianggap langka. Hingga mata angin mencetaknya lagi untuk kali ketiga agar karya Kuntowijoyo bisa dinikmati kembali khususnya oleh generasi milineal.

Pasar bercerita mengenai kehidupan seorang mantri pasar. Pria tua sebatang kara, tidak menikah, dan tinggal menunggu waktu untuk benar-benar pensiun. Pria tua ini sudah lama menjabat sebagai mantri pasar di kota kecil itu. Ia dihormati oleh para pedagang yang melapak di pasarnya kecuali seorang saudagar tamak bernama Kasan Ngali.

20181011_014630

“Orang itu harus samadya jangan berlebihan,jangan makan terlalu panas  atau terlalu dingin.”(halaman 10)

Sampai suatu masalah terjadi, hingga para pedagang mulai berontak kepada petugas Pasar di kota kecil itu. Berawal dari burung dara milik Pak Mantri yang jumlahnya banyak itu, memakan beras, es cendol, jagung, segala dagangan, mengotori lapak-lapak dengan tahi-tahinya. Tak urung para pedagang dilanda kerugian. Jualan tak selalu ludes ditambah setoran terutama untuk membayar pasar masih terus ditarik oleh Paijo. Membuat pedagan hilang kesabaran. Siapa yang mau hidup seperti itu ?

Para pedagang tidak langsung mendatangi Pak Mantri untuk protes menceritakan kerugian mereka. Mereka melampiaskannya kepada Paijo, si tukang karcis sekaligus asisten Pak Mantri Pasar. Paijo yang selalu mendapat tugas untuk menarik karcis mendapat penolakan dari para pedagang untuk membayar karcis. Paijo dimusuhi para pedagang karena seperti tidak mau tau dengan alasan pedagang yang merugi akibat burung-burung dara Pak Mantri.

“Burung-burung tak bisa bersalah. Mereka memang tak punya otak. Mestinya orang-oranglah yang menggunakan otaknya. Kalau punya beras ya ditutup. Kalau punya Lombok, ya ditutup. Bukan burungnya yang dibunuh. Tak tahu budi. Di mana mereka jualan kalau bukan disini ?” (halaman 28)

Merasa keadaannya gawat Paijo segera melapor pada atasannya Pak Mantri. Bukannya mendapat pembelaan, Paijo malah kena damprat Pak Mantri. Pak Mantri merasa orang-orang Pasar tak tau diri dan tak masuk akal karena menyalahkan burung-burung daranya. Maka Pak Mantri ambil tindakan dengan mengadukan perkara kepada polisi dan camat untuk bisa menegakkan keadilan.

“Kejahatan terbalas juga, bukan dengan kejahatan, tetapi dengan undang-undang.” (halaman 84)

Ternyata tak hanya pihak pedagang yang merasa dirugikan oleh burung-burung dara peliharaan Pak Mantri. Rupanya Bank, tempat menabung, juga ketimpa masalah. Tidak ada lagi orang yang datang untuk menabung, Bank sepi nasabah. Pegawai bank itu, seorang gadis cantik bernama Zaitun saban hari membersihkan tahi-tahi burung dara yang mengotori meja kerjanya. Bank yang telah lama berdiri di dalam pasar itu ikut kumuh karena keberadaan burung-burung dara yang suka bertengger dan bersarang dimana-mana. Zaitun diam-diam jengkel apalagi melihat pemilik burung, yang berjarak selangkah dari kantornya, tak acuh dengan kelakuan burung-burung daranya.

Zaitun meski memendam kekeselan tetap berusaha menampilkan keramahan layaknya tetangga yang baik kepada petugas Pasar. Terutama saat Pak Mantri berkunjung ke kantornya. Pak Mantri mulai sering datang ke bank untuk berkeluh kesah tentang kelakuan pedagang yang dianggapnya berontak akhir-akhir ini. Pedagang yang mulai membawa tongkat untuk memukul dan menangkapi burung-burung dara. Zaitun menanggapi cerita Pak Mantri dengan mengatakan bukan salah pedagang. Jelas Pak Mantri tersedak dengan tanggapan Zaitun yang diharapkan mau membelanya. Zaitun diam-diam punya pikiran yang sama dengan para pedagang. Burung dara memang bersalah.

“Orang itu kalau kurang pengertian bisa saja menghina orang lain.” (halaman 88)

Perkara burung tak hanya membuat para pedagang terlihat memberontak. Juga membuat Zaitun, sosok wanita santun dan berbudi itu, mengambil jarak dengan Pak Mantri. Pak Mantri sudah melapor kepada camat. Tapi hasilnya tak seperti harapannya, malah Pak Camat meminta Pak Mantri menulis aksara Jawa untuk sebuah acara besarnya. Polisi pun demikian. Tak ada yang menganggap bahwa burung dara Pak Mantri patut dibela.

“Memasak sayur mesti pakai garam, supaya tidak hambar. Sekali-sekali orang mesti diajar untuk susah, supaya bisa merasakan kegembiraan hidup.” (halaman 33).

Masalah semakin bertambah dengan ulah Kasan Ngali, sang juragan itu. Ia memanfaatkan situasi pasar untuk merenguk keuntungan. Khususnya mencuri perhatian Zaitun yang diam-diam disukainya. Lelaki mana yang tidak menyukai Zaitun ? Gadis jelita berbudi, berbahasa santun, dan cerdas. Kasan Ngali yang sudah berpengalaman, menikahi banyak perempuan dan kaya, tentu mudah saja kepincut dengan si petugas Bank.

“Yang jujur akan mujur. Kemenangan yang jahat itu hanya sementara saja. Sedang yang abadi ialah kemenangan bagi yang baik dan benar.”

Kasan Ngali mendirikan pasar illegal di sebelah pasar legal yang dijaga Pak Mantri. Kasan Ngali bahkan merayu Paijo untuk meninggalkan tempat kerjanya dan bekerja kepadanya. Penghianatan. Namun, Paijo tetap setia berdiri di belakang Pak Mantri. Pak Mantri yang mengetahui berdirinya pasar tandingan yang membuat pasarnya sepi, berang. Pak Mantri kembali membuat laporan dengan dibantu Paijo untuk diserahkan kepada pihak berwajib. Tingkah Kasan Ngali memperburuk keadaan ditambah dengan mengupahi orang-orang yang mau menangkapi burung-burung dara. Padahal sebelumnya Pak Mantri telah melakukan aksi brilian dengan menyerahkan burung-burung dara kepada para pedagang untuk bebas dimiliki dan bebas melakukan apa saja kepada burung-burungnya. Sebuah upayaa untuk mendapatkan kembali pasarnya.

“Perbaikilah dirimu sendiri, baru engkau minta perhitungan orang lain.”(halaman 310).

Kerelaan Pak Mantri untuk melepaskan burungnya kepada warga datang dari perdebatannya bersama Paijo. Mendapatkan masalah bertubi-tubi karena burungnya membuat Pak mantra sadar ada yang lebih penting. Pak Mantri juga berniat memperbaiki hubungannya dengan Zaitun yang sebelumnya tanpa sepengetahuannya telah memberinya daging goreng yang enak. Daging itu bukan daging ayam melainkan burung dara.

“Pelajaran dari burung dara itu ialah :bila hatimu tenang, kerjamu berhasil. “ (halaman 26)

Berbagai jurus dikerahkan si tua Kasan Ngali demi bisa merayu Zaitun. Mulai dari hadiah-hadiah mahal yang dikirimkannya lewat orang-orangnya atau dia sendiri. Pernah juga Kasan Ngali mempamerkan kekayaannya dengan membeli sebuah mobil sedan, satu-satunya yang punya di kota itu, di tambah dengan dandanan necis laiknya pemuda bujangan. Kasan Ngali mendatangi kantor Bank itu setelah mendapat perhatian orang-orang Pasar dengan membawa bunga. Sayang sekali Zaitun tak terpengaruh dengan usaha demi usaha Kasan Ngali. Zaitun menolak dan menunjukkan jika dia punya harga diri yang tidak gampang dibeli. Perempuan tangguh.

“Kalau nafsu sudah menguasai budi, nasihat tak ada gunanya.” (halaman 6)

Kasan Ngali jelas tak terima dengan penolakan Zaitun. Belum pernah ia mengalami penolakan seperti itu. Zaitun harus tahu siapa itu Kasan Ngali. Selanjutnya Kasan Ngali merubah target mangsa sebagai bagian balas dendam terhadap Zaitun yang dianggapnya jual mahal. Sri Hesti seorang penari panas, dari ketorpak, menjadi sasaran Kasan Ngali. Sri Hesti sangat popular di kalangan warga berkat kemampuannya menari indah dengan tubunhnya indah membuat siapapun betah begadangan bila ketoprak manggung. Bisa dibilang keberadaan Sri Hesti yang membuat ketoprak laris manis. Tentu sudah banyak pula yang mencoba melamar Sri Hesti, tapi selalu ditolak. Kali ini giliran Kasan Ngali mencoba untuk mengajak Sri Hesti menjadi istri ke sekiannya. Kasan Ngali menghabiskan banyak modal untuk bisa menggaet Sri Hesti. Kebetulan pula Kasan Ngali dekat dengan Darmo Kendang, yang mengatur kegiatan Ketoprak. Darmo Kendang menjadi perantara Kasan Ngali untuk mendapatkan Sri Hesti. Syaratnya tentu saja Kasan Ngali harus bisa memenuhi permintaan Sri Hesti yang sudah pasti akan menghamburkan banyak uang.

Kasan Ngali padahal sadar bahwa dirinya sedang terancam kebangkrutan karena telah mengeluarkan banyak modal untuk mendirikan bank kredit, pasar baru, membeli mobil,membayar pegawai dan orang-orang pasar yang berhasil menangkap burung dara dan membeli segala macam hadiah untuk Zaitun. Kasan Ngali kalap tapi sudah terkanjur. Tak bisa dia mundur demi harga dirinya. Demi balas dendam kepada Pak Mantri dan Paijo juga terutama kepada Zaitun yang telah menolaknya.

“Di balik apa yang tak kausuka kadang-kadang tersembunyi apa yang kau cari.” (halaman 58)

Zaitun akan segera meninggalkan pasar itu, karena masa kerjanya sudah habis. Berkat sedikitnya nasabah, Zaitun akan dipindahkan atau dipulangkan. Pak Mantri dan juga Paijo merasa kehilangan meskipun mereka tak akur dengan Zaitun. Pak Mantri yang pernah tidak suka dengan Zaitun merasa sayang dan peduli. Tapi tak ada yang bisa dilakukan, Zaitun akan pergi dan pegawai bank akan diganti dengan orang lain. Sungguh berat melihat Zaitun tak lagi berada di balik jendela bank pasar itu.

Tak hanya Zaitun yang sudah tidak akan lagi bertugas di pasar itu. Pak Mantri juga akan mengakhiri masa baktinya sebagai mantri pasar. Pak Mantri telah menemukan orang yang tepat untuk menggantikan dirinya. Orang itu adalah Paijo, asistennya sendiri. Meskipun sering menjengkelkan Pak Mantri, Paijo adalah orang yang rajin, bekerja sepenuh hati, dan menaruh hormat kepada Pak Mantri. Tak pernah sekali-sekali Paijo dendam atau membalaskan penghinaan yang pernah di lemparkan Pak Mantri padanya. Paijo adalah kepercayaan Pak Mantri, ia sudah seperti anak sendiri.

“inilah Nak. Kita menang, tanpa mengalahkan. Kita sudah bertempur tanpa bala tentara. Mengapa, musuh kita adalah kita sendiri. Di sini. Nafsu kita. Dan kita sudah menang !” (halaman, 374)

Tokoh-tokoh penting Pak Mantri, Paijo, Zaitun dan Kasan Ngali, Darmo Kendang, Jenal, Sri Hesti Tentu yang terutama ialah burung dara. Berlatar di sebuah kota kecil zaman 80-an dengan kesibukan pasar yang tak lagi ditemui di pasar hari ini.

Novel  ini sangat sederhana. Pola ceritanya lurus saja dengan belokan-belokan kecil. Konflik yang terjadi hanya masalah persaingan dan soal menjaga. Tokoh utama si pak Mantri, hanyalah seseorang yang berusaha menjaga warisannya yaitu sikap lurus. Namun ternyata yang dipandang lurus bisa dianggap melenceng oleh orang lain dalam cerita ini, para pedagang dan Zaitun. Hidup yang terus berubah menjadi tantangan Pak Mantri untuk menjaga warisan. Bertahan atau berubah. Pilihan yang tak mudah. Sementara Paijo adalah pribadi yang juga menjaga kesetiaan dan rasa hormatnya kepada atasaanya walau sudah kuno. Bertolak belakang dengan Kasan Ngali yang tak bisa menjaga bahkan hartanya sendiri.

Novel ini sebagai sastra terlihat sederhana. Namun nilai-nilai di dalamnya yang berusaha dipesankan oleh Kuntowijoyo tidak sesederhana itu. Untuk masalah kepuasan saya pribadi belum puas belum merasakan kehebatan Kuntowijoyo di novel ini. Mungkin saja di karya lainya, tapi jelas bukan novel Pasar.

Judul   : Pasar – Penulis  : Kuntowijoyo -Penerbit  : Mata Angin, -Tahun : 2016 (Cet ke-3)-Tebal Buku  : 378 halaman -Desain Cover : Buldanul Khuri-  No ISBN : 978-979-9471-26-0

Ruang Sendiri

11 Oktober 2018

#ayomembaca

KERUMUNAN TERAKHIR

Saya memasukan Okky Madasari sebagai salah satu penulis nasional yang saya ikuti. Okky setiap tahun berusaha konsisten menghasilkan setidaknya satu buku. Dengan  mengangkat tema isu-isu sosial yang terjadi khususnya di bangsa ini. Tak selalu buku yang Okky ciptakan membawa kepuasan para pembacanya. Tapi setidaknya Okky terus bertahan untuk terus menulis dengan gayanya sendiri, mencoba dan mencoba demi mengisi kesusastraan di negara ini.

 

Buat blog

Seorang bujang bernama Jayanegara,  hanya tau cara bersenang-senang, seperti kebiasaan pemuda yang berasal dari keluarga kaya raya. Sering jajan psk di sebuah lorong stasiun tua, merokok, menenggak miras.  Jayanegara juga adalah seseorang yang sedang dalam pelarian.

Jayanegara berasal dari keluarga berada. Ia bapak Bapak yang dihormati banyak orang. Bapaknya adalah seorang petinggi di sebuah kampus  negri Yogjakarta  bahkan hampir menjabat rektorat. Bapak Sukendar, seorang anak kampung yang pernah merasakan London sebagai tempat mengejar pendidikan. Bukti bahwa mimpi besar bisa jadi kenyataan di tangan siapapun. Bukti kesuskesan tak pernah pilih kasih asal ada bakat dan jalan. Bapak Sukendar menemukan semua itu. Tentu kesusksan Bapak Sukendar menjadi kesukesan Jayanegara terutama untuk berkah-berkahnya. Namun di balik kehebatan Bapak ada bau busuk yang sesuangguhnya telah mencemari keluarga Sukendar yang bahagia itu.

Perempuan. Bapak Sukendar yang kaya dan dihormati berselingkuh dengan beragam perempuan. Aksi main belakang dengan wanita lain yang akhirnya juga terbongkar oleh istrinya. Bukannya taubat, setelah kepergok istrinya, Bapak Sukendar tak kapok main perempuan. Ia malah tak sungkan membawa wanita selingkuhannya ke rumah hingga masuk ke kamarnya. Perbuatan tidak terpuji hanya disasksikan oleh Ibu, Jayanegara, beserta para adiknya. Sementara orang luar masih menaruh hormat dan kagum kepada Bapak Sukendar.

Jayanegara seperti memiliki ibu yang lemah. Tak ada reaksi berarti dari si ibu terhadap kelakuan Bapak yang selingkuh. Padahal seharusnya Bapak memang harus tau rasa. Ibu Jayanegara hanya bisa sabar. Tapi kemudian menyerah juga, ia minggat meninggalkan keluarga. Meninggalkan rasa kasihan dan juga perasaan benci pada Jayanegara.

Jayanegara  makin tidak tentram hidup di rumah. Ditambah ibunya yang selalu membelanya sudah tak ada di rumah. Sedangkan Bapak  terus saja mengajak para wanita mampir ke rumahnya. Beruntung Jayanegara punya Maera.

Maera adalah wanita baik-baik yang hidupnya terencana demi mengejar cita-cita.  Tak seperti pacarnya yang bahkan tak tau caranya bercita-cita.. Maera ingin saat lulus nanti bisa bekerja di Jakarta. Kota besar yang memiliki segalanya dan Maera ingin memiliki segalanya itu. Impian yang sering kali diremehkan Jayanegara. Perbedaan  antara Maera dan Jayanegara yang selalu membuat mereka bertengkar dan berdebat. Maera yang lebih dewasa lebih sering menasehati Jayanegara atas kelakuannya. Sedangkan Jayanegara yang merasa nasehat Maera sering menusuk Harga dirinya membuat ia berontak. Pertengkaran ditambah dengan kelakuan Bapak Sukendar yang diam-diam  tertarik dengan Maera. Bahkan Bapak terhormat ini pernah hampir mengajak Maera kencan. Sampai akhirnya Jayaneraga, sang anak melabrak Bapaknya sendiri. Meski sering bertengkar dan berdebat pasangan ini tak bisa dipisahkan.

Kedua pasangan ini memang sempat berpisah beberapa lama. Pada saat Maera mendapat pekerjaan di Jakarta. Waktu itu Jayanegara masih belum lulus dari perkuliahan bahkan mungkin tidak akan pernah mengantongi ijasah seperti Maera.

Di tinggal kekasih,  ibunda, tapi tinggal bersama Bapak yang tukang main perempuan, membuat hidup Jayanegara hampa. Tak ada semangat tak ada gairah. Selain bermain bersama para pelacur di stasiun atau minum hingga teler atau menghabiskan berbungkus-bungkus rokok.  Suatu hari karena tak tahan dengan keadaannya  Jayanegara memutuskan untuk pergi menyusul Maera ke Jakarta. Entah mau bikin apa. Maera yang sedang berusaha hidup di Jakarta dengan keterbatasannya menerima Jayanegara meskipun dia tahu kedatangan si pacar akan menambah beban hidupnya. Apalagi Jayanegara datang ke Jakarta bukan untuk bekerja seperti Maera. Apakah cinta semewah ini ? Bodoh tapi sengaja tak dilihat. Jayanegara tinggal menumpang hidup bersama pacarnya.

Di Jakarta Jayanegara menemukan hidup baru dalam dunia baru. Di mulai pada saat Maera tak henti-hentinya mengomel agar Jayanegara mencari pekerjaan di dunia maya. Karena Maera merasa kesal bebannya semakin bertambah saja semenjak Jayanegara ikut hidup bersamanya. Jayanegara memang melakukan perintah Maera tapi tidak serius seperti yang diharapkan Maera. Jayanegara malah menemukan ketertarikan dalam hal lain di dunia baru itu. Layaknya seperti seseorang yang mendapatkan mainan baru. Jayanegara mengurung diri di kamar dan rajin berselancar ke dunia itu.

Di dunia itu Jayanegara menemukan lingkungan baru dan identitas baru. Di dunia baru ia bukan lagi Jayanegara yang dianggapnya telah usang dan mati. Di dunia baru ia adalah Matajaya.  Mulailah Matajaya mengelilingi lingkungan baru mencari kawan yang menarik baginya.

Di dunia baru Matajaya bertemu dengan orang-orang aneh sekaligus menarik. Ada Kelana Bumi si pencipta sajak yang nasibnya begitu. Ada Arkadewa seorang yang gemar mencuri perhatian dan memang selalu mendapat perhatian setiap dia menuliskan sesuatu yang isinya pasti selalu berkobar. Lalu Nura wanitia di pinggir jalan yang sedang marah dan suaranya ingin di dengar karena ada pesan penting yang ingin dia sampaikan. Ada Kara seorang wanita dewasa yang aslinya masih seorang anak SMP. Juga Juwi seorang anak kecil yang ternyata adik kandung Matajaya yang senang menceritakan pengalamannya sebagai anak SD.

Di dunia baru segera saja Matajaya menjadi terkenal yang kedatangannya selalu ditunggu-tunggu. Itu karena pengaruh seorang Arkadewa, tokoh yang di idolakan Matajaya di dunia baru itu. Setiap cerita Matajaya selalu mendapatkan pujian dan sambutan yang baik. Walaupun sebagian besar adalah cerita palsu yang tak pernah terjadi dalam hidupnya. Kara yang masih remaja itu mengagumi Matajaya. Kara percaya dengan cerita Matajaya yang menurutnya keren. Begitu juga dengan Maera yang diam-diam ikut masuk dunia baru dan secara tidak sengaja ikut memperhatikan Matajaya. Maera tidak tahu bahwa Matajaya adalah pacarnya sendiri.

Sampai akhirnya masalah itu datang. Membongkar kepalsuan Matajaya. Di sebabkan oleh Bapaknya sendiri, Sukendar. Matajaya menceritakan keburukan Bapaknya yang tukang main perempuan di dunia baru. Langsung saja cerita tentang Bapak Sukendar menjadi fenomenal dan panas. Seorang petinggi Perguruan Tinggi Negri yang dikenal baik dan dihormati memiliki kelakuan bejad. Tak ayal Pak Sukendar kebakaran jenggot. Ia kemudian bertindak mencari siapa dalang di balik cerita panas itu. Tak perlu waktu lama polisi berhasil meringkus pelaku yang ternyata adalah anaknya sendiri. Jayanegara alias Matajaya.

Jayanegara tak pernah terima kemenangan yang selalu di dapatkan Bapak Sukendar. Kemenangan yang membuatnya tetap dihormati dan dikagumi oleh banyak orang. Suatu waktu ia bertemu dengan ibunya di sebuah desa. Ibunya sekarang bekerja sebagai seorang guru Madrasah. Kehidupannya berbalik 180 derajat dengan kehidupan dulu saat masih tinggal bersama. Ibunya sangat senang bisa bertemu dengan Jayanegara. Kerinduannya akhirnya bisa terlepas. Jayanegara menceritakan keadaan dirinya, adik-adiknya, dan bapaknya. Bapaknya sudah memiliki istri baru tapi istri baru itu akhirnya juga pergi dari rumah. Tak ada yang sanggup tinggal dengan lelaki bejad. Bapak Sukendar diangkat menjadi dekan. Sebuah perstrasi dan kepercayaan yang sebenarnya tak pantas di dapatkan Bapak Sukendar yang bejad. Lalu Jayanegara yang dalam hatinya tak terima dengan pengangkatan Bapaknya meminta si ibu untuk melakukan sesuatu. Menuliskan cerita tentang kehidupannya yang dikhianati oleh suaminya sendiri.

Seperti dulu pada waktu Jayanegara mengajarkan ibu menggunakan ponsel. Sekarang Jayanegara mengajarkan ibu memakai komputer untuk menulis ceritanya. Cerita haru sang ibu setelah dibaca Jayanegara segera di posting lewat identias Matajaya, memakai sisa-sisa kejayaan Matajaya. Jika sebelumnya cerita tentang Bapaknya membawa Jayanegara berurusan dengan polisi. Untuk cerita kali ini yang ditulis oleh ibunya alias istri Bapak Sukendar berhasil membuat Bapak Sukendar jatuh. Jayanegara dan ibu menang, jabatan Bapak Sukendar yang baru beberapa hari di copot.

Usai dari mengunjungi ibu Jayanegara memutuskan untuk tidak kembali kerumah Bapak. Apalagi setelah ia telah menjatuhkan reputasi bagus Bapak Sukendar. Jayanegara memutuskan untuk menemui Maera kembali yang sudah meninggalkannya saat ia tertangkap polisi. Saat Jayanegara tiba di depan kamar kos Maera, ia melihat ada kemurungan pada Maera. Ia terlihat lusuh tak terurus tidak seperti biasanya. Maera kemudian pelan-pelan bercerita bahwa dirinya telah ditipu oleh Arkadewa. Seperti Nura, Maera telah terperangkap oleh kehebatan palsu Arkadewa. Sama seperti Nura, Maera dilecehkan oleh Arkadewa. Maera adalah korban yang entah keberapa dari kepalsuan Arkadewa. Sekarang Maera sangat terpukul dan ia depresi. Maera meminta Jayanegara untuk membawanya pergi ke tempat sunyi dimana tak ada orang-orang muda modern. BErita mengenai Skandal dirinya dengan Arkadewa sudah menjadi buah bibir di dunia baru.

Jayanegara yang masih menyayangi Maera mengajaknya ke sebuah gunung tempat simbahnya tinggal, di Puncak Suroloyo. Jayanegara merasa disana Maera akan terlindungi terutama dari kerumunan orang-orang masa kini. Tinggallah pasangan ini di lereng gunung Suroloyo memulai hidup baru. Pelan-pelan Maera mulai pulih mulai kembali seperti sedia kala. Sampai suatu saat gunung Suroloyo kedatangan beberapa pemuda, rombongan Mapala yang penasaran dengan si Mbah sang juru kunci. Pertemuan yang secara langsung melibatkan Jayanegara dan Maera. Anak-anak Mapala ini rupanya mengenal Maera yang kisahnya pernah laris di dunia maya. Maera yang menyangkal tak bisa tidak kecewa bercampur malu mengingat masa lalunya. Maera pergi meninggalkan mereka disusul Jayanegara yang mengejarnya.

Okky memang jeli melihat situasi sosial yang sedang trend untuk dibawakan sebagai bahan ceritanya. Hanya sayang untuk novel ini rasanya kurang greget, kaku, sehingga sering membuat bosan dengan jalannya cerita.  Akhir dari tokoh yang sebenarnya penting juga tak jelas seperti Arkadewa misalnya. Kesimpulannya novel Kerumunan Cerita masih jauh dibawah novel Maryam, masih dibawah Pasung Jiwa, masih sedikit dibawah 86, dan mungkin selevel dengan Entrok. Sebagai pembaca Okki saya selalu rindu untuk menikmati karya-karya bagus yang sebenarnya bisa dia ciptakan.

Judul : Kerumunan Terakhir │Penulis  : Okky Madasari│Penerbit  : Gramedia Pustaka Utama │Tahun : 2016, Cetakan pertama│Tebal Buku    : 360  halaman │Genre : Novel (Sastra Indonesia) │ Rating : 6/10  

ISBN : 978- 602- 03- 2543- 9

#Krinomembaca

Panas Merekah

09 Oktober 2018

LAUT BERCERITA

 

Jpeg

Sebentar lagi laut dan para ikan pari akan membawa tubuh itu. Sebentar lagi hubungan dengan dunia hidup segera berakhir. Kehidupan berganti kematian. Habis di tangan mereka,  pembela keamanan negari.   Inilah akhir dari seorang pemuda yang hanya  kritis terhadap sebuah rezim. Seorang aktivis yang cuma peduli pada bangsanya di zaman orde baru.

Novel ini bercerita tentang aktifitis yang dihilangkan oleh aparat. Para korban penculikan meninggalkan jejak mimpi-mimpi buruk bagi keluarga mereka yang terus mencari kepastian. Sayangnya keberadaan saudara-saudara mereka yang diculik berada dalam ketidakpastian. Mereka yang kehilangan sanak saudara menyuarakan keadilan dan kemanusiaan. Mereka yang kehilangan hidupnya menyuarakan keadaan sebenarnya walau tak  pernah sampai.

Berada di zaman orde baru, zaman yang dianggap menggerogoti kesejahteraan rakyat. Zaman kekayaan negara hanya bisa dinikmati segelintiran orang terutama para penguasa. Zaman taksamarataan yang dibungkam tangan bezi. Zaman yang ingin keluar dari zaman ini dianggap pemberontak dan penghianat.

“Kamu harus bisa membedakan mereka yang bermulut besar, omong besar, dengan mereka yang memang serius ingin memperbaiki negri ini. (Laut Bercerita, hal 23)

Maka berdirilah Winatra yang artinya membagi secara rata. Juga Wirasena artinya para pemberani  (hal 96 & 97). Sebuah tempat untuk anak muda mencurahkan kemarahannya, saling menggosok kekritisannya, serta memantik gerakan perlawanan terhadap ketidakadilan. Di sisi yang lain kedua organisasi juga menjadi rumah kedua yang hangat dengan penuh kesetiakawanan.

Organisasi yang beranggotakan anak-anak muda ini segera menjadi ancaman pemerintah penguasa. Dan segera organisasi dianggap terlarang dan masuk dalam daftar Target Operasi.

Laut, Kinan, Sunu, Narendra, Julius, Alex, Tama, Gala, dan lain-lain segera menjalani hidup yang tak normal. Berawal dari sekedar mendiskusikan buku-buku yang dianggap terlarang di sebuah rumah sederhana pinggiran Yogyakarta, Seyegen. Rumah yang awalnya tak terurus menjadi saksi panasnya diskusi atau persiapan dalam gerakan membela rakyat. Mulai dari gerakan menanam jagung bersama para warga di Blanggunan, hingga gerakan di Jakarta.

Pergerakan yang mencuri perhatian penguasa untuk kemudian mengawasi dan menindak mereka. Memang aparat turun langsung untuk melakukan pembersihan pada kedua organisasi ini. Anggota Wirasena dan Winatra langsung menjadi buron negara. Laut, Kinan, Sunu, dkk hidup dalam pelarian. Namun tetap terus menjalankan aksi perlawanan kepada tangan bezi orde baru. Menahan perasaan rindu pada keluarga yang sudah lama tak dijumpai. Menyamarkan identitas asali untuk menyambung hidup. Menyembunyikan suasana hati demi ketegaran untuk terus berlari dari hukum negri. Semua adalah konsekuensi dari aksi pemuda untuk mengubah negri.

Pertahanan Laut dkk tak kokoh selamanya. Satu persatu mereka masuk jaring aparat untuk diadili. Diadili secara tersembunyi dengan keji tanpa saksi. Berapa banyak pukulan, sepatu jeruji yang melayang, hingga setruman mendera tubuh muda itu? Manusia berambut cepak berbadan kekar plus pistol yang tersembunyi tapi siap untuk diledakan. Melawan anak muda yang hanya bermodal kekritisan dan keprihatinan.

“Penghianat ada di mana-mana, bahkan di depan hidung kita. Kita tak pernah tahu dorongan setiap orang untuk berkhianat: bisa saja duit, kekuasaan, dendam,atau sekedar rasa takut dan tekanan penguasa.”(Laut Bercerita, hal 30)

Dalam cerita akan selalu muncul  penghianat.  Memang sang penghianat seharusnya muncul tak terduga, tahu-tahu masuk dan hidup di dalam Wirasena dan Winatra. Penghianat yang mensukseskan operasi aparat dalam penangkapan. Orang yang dicurigai Laut, Sunu, Alex, Bram, dan sebagian besar anggota organisasi salah besar.Kecurigaan pada satu orang dan ternyata salah hanya membuat mereka terlena untuk tak melihat celah lain.

Aktor utama dalam novel ini adalah Laut, sesuai dengan judul. Laut akan tetap bersuara sekalipun dia sudah tenggelam tak berbekas. Laut akan mengenang saat-saat  berada pada masa perjuangan hingga berujung bersama aparat. Masa-masa mengenang keluarga yang selalu dirindukannya. Hingga masa-masa kekeluargaan  bersama Winatra dan Wirasena, tempat ia juga mendapatkan cinta sejatinya

Cerita Laut tak pernah selesai untuk didengar meski hidupnya telah selesai. Disambung atau diperkuat oleh adiknya, Asmara Jati . Asmara Jati ingin bersuara mengenai kepedihan sebagai orang yang kehilangan dan merasakan dampak ketidakpastian dari kehilangan orang tercinta. Suara Asmara Jati yang belum berhenti agar pemerintah menuntaskan masalah kemanusiaan ini. Mencari dan mencari. Mungkin mencari jejak mereka yang hilang. Atau mencari hukum yang seadil-adilnya. Mencari yang mungkin belum selesai hingga kini.

“Ketidaktahuan dan ketidakpastian kadang-kadang jauh lebih membunuh dari pada pembunuhan.” (Laut Bercerita, hal 256)

“Yang paling sulit adalah menghadapi ketidakpastian.Kami tidak merasa pasti tentang lokasi kami; kami tak merasa pasti apakah kami akan bisa bertemu dengan orangtua, kawan, dan keluarga kami, juga matahari; kami tak pasti apakah kami akan dilepas atau dibunuh; dan kami tidak tahu secara pasti apa yang sebetulnya mereka inginkan selain meneror dan membuat jiwa kami hancur…”

(Laut Bercerita, hal 259)

Kehilangan tanpa adanya kepastiaan hanya bisa dirasakan dengan pahit. Kehilangan tak hanya mengambil hidup mereka yang dhilangkan ,tapi juga mengambil hidup mereka yang ditinggalkan. Berbeda dari trauma pasca-perang. Sekejam-kejamnya perang masih ada kepastian keadaan korban baik hidup, lumpuh, atau mati. Tapi ketidakpastian hidup dan mati adalah derita yang selalu menimbulkan tanda tanya. Mimpi buruk selalu menjadi kawan. Mungkin novel ini mengajak pembaca untuk ikut merasakan bagaimana rasanya mendapatkan ketidakpastian hilangnya orang yang kita sayangi. Mengingat kembali masa-masa kelam di zaman itu yang sampai saat ini masih belum ada penyelesaian yang jelas. Jangan sampai tragedi penculikan dan penghilangan terulang kembali.

Sudah cukup banyak novel yang berlatar tentang masa-masa dihilangkan oleh razia orde baru. Ada  Pulang dan Amba.

Kebetulan dua novel Amba dan Pulang berhasil menjadi pemenang Kathulistiwa Award nomine prosa. Apakah Laut Bercerita akan mengikutinya dengan latar cerita yang hampir sama ?

Rupanya Laut Bercerita hampir mengulang prestasi Pulang. Tapi tak cukup kuat untuk mengalahkan pesaingnya. Mungkinkah cerita tentang penculikan orde baru sudah mulai dianggap usang ? Ataukah cerita dari Laut Bercerita kurang gereget untuk menyamai Pulang dan Amba ?

Judul :Laut Bercerita-Penulis : Leila S. Chudori –Penerbit : KPG, 2017 (Cet ke-1)-Tebal Buku  : 377 halaman- Genre : Novel (Sastra Indonesia) – Nilai  : 8/10

 

Ruang Menunggu

 

September 2018

Kita Butuh Waktu untuk Hening

Sejenak Hening                                                     

Suatu hari saat berkunjung ke Toko Buku Gramedia bersama ibu, saya menghampiri rak bergenre pengembangan diri. Genre bacaan yang sudah lama saya tinggalkan. Waktu itu saya hanya sekadar melihat-lihat sekaligus berpikir mencari suasana baru tentang bahan bacaan saya yang akhir-akhir ini lebih banyak ke sastra. Ada tiga buku yang menarik minat saya  namun karena tak ada agenda untuk membeli kala itu saya hanya mengambil photo judul dan harganya untuk dimasukan whislist. Saya pulang tanpa membawa buku baru tetapi membawa keinginan untuk kelak membeli buku yang menarik minat saya tadi.

Salah satu buku yang menarik minat saya adalah karangan Adji Silarus dengan berjudul “Merawat Bahagia”. Alasannya judulnya dan sinopsisnya ‘serasa pas dengan kebutuhan saya saat ini’ ditambah penulisnya merupakan ‘lulusan Psikologi UGM’. Saya menyadari bahwa saya di rumah sudah memiliki satu buku Adjie Silarus yang hingga saat itu belum pernah saya buka alias masih segel sejak beli. Itu jugalah alasan saya untuk mengembalikan buku terbaru Adjie ke tempatnya semula. Pulang dari sini saya akan membuka dan mencari tahu daya tarik dalam tulisan Adjie sebelum membeli buku terbarunya.

18813324

Alhasil saya mulai membaca buku Adjie untuk pertama kalinya berjudul “Sejenak Hening” . Sebuah buku pengembangan diri atau buku motivasi. Isinya sederhana dengan disertai gambar di awal setiap chapter menambah suasana perenungan. Buku Adjie ini dibaca untuk direnungkan supaya pembacanya menjadi sadar penuh begitulah kira-kira kesan yang saya dapatkan.

Sadar untuk menjadi bahagia. Sadar untuk menikmati hidup. Sadar untuk menemukan kepuasan di dalam kesederhanaan. Sadar untuk mengenal penyebab seseorang menjadi stress. Sadar untuk menikmati hari ini sekalipun ada banyak persoalan. Sadar untuk selalu sadar ada hal yang haru disyukuri dengan tulus. Bagaimana caranya ?

Dengan hening, seperti judul buku. Hening dalam artian diam sebentar untuk tak memikirkan apa-apa hanya merasakan detak jantung, napas naik turun, udara masuk dan udara keluar, dan hal-hal lain yang membuat kita menyadari fungsi tubuh. Sesuatu yang tak pernah dilakukan orang zaman sekarang yang semakin bertambah sibuk dan serba terburu-buru.

Kata-kata Adjie dalam buku ini sangat sederhana sehingga seharusnya bisa dicerna oleh semua pembaca. Ada kesan bahwa memang untuk menjadi sadar penuh demi kebahagiaan tak selalu dengan hal-hal rumit. Kita butuh yang sederhana agar menyadari bahwa hidup bahagia sejatinya juga sederhana. Namun kita sering kali menolak yang sederhana.

Judul : Sejenak HeningPenulis : Adjie Silarus Penerbit : MetagrafTahun : 2014, Cetakan Ketiga Ketebalan : 307 halaman │Genre : Pengembangan Diri │             ISBN : 978-602-9212-85-3

#ayomembaca

25 Juli 2018

BACA BUKU YUKZ, MEMBACA ITU ASYIK LOH…

 

(The Art of Reading)

Judul Buku          : The Art of Reading

Penulis                 : Agus Setiawan

Penerbit              : Gramedia Pustaka, Cet-1 tahun 2012

Tebal                     : 146 halaman

ISBN                      : 978-979-22-8166-8

Genre                   : Pengembangan Diri / Hobi

 

13574951._UY400_SS400_

 

Banyak orang besar atau orang sukses dalam karir dengan dibantu oleh kebiasaan membaca. Tentu saja membaca buku-buku yang menunjang perkembangan diri mereka. Jadi kesimpulannya membaca adalah perlu dan dapat mengantarkan pada keberhasilan.

Kemudian ada beberapa orang termasuk juga saya yang sudah senang dengan membaca senang mendatangi toko buku bahkan sampai membelinya. Persoalannya yang kemudian ialah kesenjan menemukan buku yang sudah dibeli hanya tergeletak atau buku baru hanya menumpuk dan menjadi sekedar hiasan di almari atau terjadi perubahan dari yang tadinya hobi membaca menjadi hobi mengoleksi buku bacaan. Apakah kita sering mengalami kejadian ini ? Saya mengalaminya. Buku yang saya beli kebanyakan belum terbaca karena tak sempat atau karena belum waktunya, sementara kebiasaan membeli buku tak bisa berhenti dengan alasan takut kehabisan dan lain-lain.

Dari dua persoalan diatas yang berkaitan dengan membaca. Maka buku ini hadir untuk memberi tuntunan supaya kita dapat mengatasi persoalan tersebut. Dengan ulasan sederhana sang penulis yang merupakan trainer sekaligus terapis alam bawa sadar ini membeberkan jurus-jurus yang jitu jika kita mau melakukannya.

Di bagian awal kita akan diajak merefleksikan diri untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan sederhana tapi penting tentang membaca dan harus kita jawab sebelum memasuki bagian lainnya. Misalnya pertanyaan tentang Apa tujuan kita membaca buku ? Kita diharuskan menuliskan minimal 10 alasan yang spesifik rinci detail dan pasti. Bukan pekerjaan mudah menemukan 10 alasan ini tetapi bila berhasil kita akan menemukan “semangat awal” untuk memulai kebiasaan membaca. IMasih ada beberapa pertanyaan lain yang harus kita jawab supaya halaman berikutnya kita bisa nyambung untuk dapat menyelesaikannya.

Pada bagian berjudul -Mengatasi Hambatan Mental- kita akan diajak melakukan pemanasan. Ini penting khususnya bagi yang memang sering mengalami hambatan saat niatan membaca hancur di tengah-tengah halaman. Biasanya disebabkan oleh kata-kata yang sulit dicerna, mengantuk, suasana kurang pas dll. Bagian ini aka nada aktifitas tubuh yang bisa dicoba dipraktekan dengan tujuan membuat tubuh menjadi rileks sehingga otak genius mungkin akan muncul.

Pada bagian lainnya pembahasan secara umum hampir sepadan yaitu mengenai efektifitas membaca. Beberapa penjelasan akan terasa diulang-ulang meski ada perbedaan judul. Cara-cara menjadi efektif dijabarkan dengan singkat padat dan berulang. Ada dua istilah jurus yang menjadi kunci dalam buku ini yaitu otak genus dan membaca flow. Bila keduanya aktif dan dipadukan maka kita sudah pasti mampu membaca secara efektif. Penulis juga sering menjelaskan dan merekomendasikan kita untuk dapat membaca secara cepat. Baca kilat dengan memainkan otak kanan dan kiri. Otak kanan untuk screaning dan mensorot otak kiri yang mengolah untuk menjadikannya sebuah informasi. Tapi, tidak semua bacaan harus dibaca dengan cepat karena setiap orang memiliki cara berbeda-beda dalam memproses informasi. Yang paling penting adalah membangun kebiasaan dalam buku disebut dalam –gigitlah apa yang bisa anda kunyah- dikhususkan bagi orang yang belum pernah atau terbiasa dengan membaca.

Tidak lupa pula -Einstein Faktor- yang walau agak sedikit membingungkan dengan penjelasaanya. Kita akan mampu mengerti saat dijelaskan mengenai contoh percobaan tentang Einstein Faktor. Ini juga merupakan bagian dari teknik, khususnya untuk menyadari berapa lama (hitungan menit) kita menjaga konsentrasi kita sewaktu membaca. Juga bisa menelusuri sebab-sebab  hilangnya konsentrasi saat kita membaca. Intinya di bagian ini kita diberi tau cara untuk meningkatkan konsentrasi saat membaca.

Buku yang saya nilai -baik- karena mengajak pembacanya untuk memiliki kebiasaan positif yaitu membaca. Karena membaca bisa ikut menolong seseorang pada sebuah keberhasilan. Buku ini memang hanya perihal bagaimana menjadi pembaca yang berhasil namun beberapa jurus dalam buku ini juga bisa digunakan untuk kegiatan positif lainnya. Misalnya bagaimana bisa bertahan untuk bermain musik meski awalnya susah karena merasa tidak berbakat, kesulitan menghapal nada dan masalah lainnya, sehingga kekonsistenan bukan hanya menjadikan kita  -bisa tapi menjadi -jago. Buku ini bisa dipakai dalam semua bidang. Kuncinya asal dibaca sampai habis kemudian dipraktekan, pasti akan jadi.

Buku ini memang sederhana dan ringkas. Isinya menarik dan amat berguna bagi perkembangan diri. Beberapa pengulangan beberapa bahasan padahal tema berbeda akan lebih baik bila tidak ada. Hal ini dikhawatirkan menimbulkan -perasaan sudah pernah- sehingga kita akan lebih memilih untuk melewatinya atau bahkan mengakhirinya padahal mungkin ada pesan atau inti yang berbeda di dalamnya. Di bagian akhir dengan sub bab Testimoni sepertinya kurang efektif untuk dihadirkan dalam buku ini apalagi jumlah halamannya cukup banyak. Mungkin akan lebih baik bila isi testimoni tidak ada atau diganti dengan tutorial langsung mengenai cara-cara yang sudah dibeberkan pada bagian sebelumnya. Atau menaruh ulasan ringkas mengenai topik yang berhubungan dengan isi buku ini seperti bacakilat atau mind maping.

Begitulah kurang lebih mengenai buku ini. Sebuah buku yang hanya menuntun bukan menjadikan kita berhasil untuk punya kebiasaan membaca atau memiliki kemampuan membaca secara efektif.

 

#ayomembaca 

 

Awas jadi RAWAN pada SENJA

 

SEPOTONG SENJA UNTUK PACARKU

1025836

Perihal senja dengan segala keindahan, ketakjuban, juga keanehan yang membikin kita penasaran di ungkap terang-terangan dalam buku ini. Mengambil tema tentang senja, berarti isinya hanya soal senja. Ditempel dengan objek yang menjadi pelengkap cerita tentang senja. Saling baur membaur menjadikannya jalan cerita senja. Pada dasarnya senja tak dapat digambarkan dengan real, rinci, dan terukur. Senja hanya dapat dilihat, dipandang, dan kemudian di rasa. Kemudian diolah menjadi sebuah dokumentasi yang tersusun lalu dikunci dalam buku ini.

Diawali dengan senja merupakan kado yang terindah untuk para pacar. Sebab senja tak perlu kata-kata. Senja ialah bukti sahih. Senja sudah menceritakan dirinya yang tak mampu diulang, direkam, atau ditulis. Senja adalah kenyataan. Lebih baik para pacar menghadiahi senja kepada pasangannya. Begitukah yang dikatakan cerita dalam buku ini. Ajakan yang membuat buku ini memperoleh pengikut untuk menjiplak surat berisi senja untuk diberikan kepada pasangan masing-masing.

Buku ini juga menyinggung jikalau senja terasa susah didapat di tengah kota atau kehidupan modern yang seringkali dihunungkuan dengan kota. Eksistensinya terhalang oleh hingar bingar kota. Keberadaannya terjepit oleh gedung-gedung tinggi industri. Di kota senja bukanlah keagungan alam yang dipuja. Di kota senja kehilangan ke permaiannya. Kita tak kan bisa merasai senja di tengah kota. Jangan-jangan kita telah kehilangan senja. Senja akan hilang dari dunia ini. Sirna oleh kegelamoran perkotaan. Senja mati. Meskipun sebenarnya senja memang tak bisa mati, kecuali rasa nikmatnya yang mati.

Senja tak bisa hadir sendiri. Ia butuh busana untuk dapat menceriterakan dirinya. Bayangkan jika senja tanpa awan yang menjadi kemerah-merahan, jingga, atau hitam. Bayangkan jika senja tanpa biru laut yang lekas berevelosu warna menjadi cermin matahari. Atau senja tanpa matahari,pasti tak akan pernah ada senja. Bagaimana dengan manusia ditengah lautan dengan perahu serta cadiknya berjalan lebih lambat dari lambat. Jangan juga menyingkirkan burung camar atau burung pelican yang sayapnya menjadi siluet. Serta benda-benda lainnya yang mengerumuni senja. Tak ada mereka maka sangat jadi tak ada senja. Pelengkap senja selalu diulang dan di ulang demi menghadirkan inilah senja.

Membaca kumpulan cerpen yang dulu digemari oleh kaum remaja, muda mudi yang sering jatuh cinta ini adalah rawan. Rawan untuk jadi ikut-ikutan mencuri senja. Mencari senja demi menghabisi rasa ketakutan, takut tidak kebagian senja. Seno Gumira menunjukkan bahwa senja bukan hanya pas untuk cerita tentang kemesraan sepasang anak manusia. Cerita tentang senja juga bisa menyinggung banyak hal tentang kehidupan sosial manusia. Tentang keluarga, tentang budaya, tentang anak-anak, atau tentang profesi sekalipun. Senja bisa menerangkan siapa saja dan Seno mampu mengkisahkannya dengan apik dengan kata-katanya yang puitis. Ketika orang kebanyakan merekam senja dengan photo Seno memilih dengan tulisan. Ingatan, pengamatan, kepekaan, kepeduliannya sebagai seorang senior sastra memang harus dikagumi. Mengenang keberadaan senja dengan sebuah cerita yang tak kalah dengan dokumentasi photo.

Namun apakah kata-kata picisan puitis yang diulang-ulang itu memang harus terjadi di dalam cerita tentang ala ini. Terkadang kita suka menjadi bosan dengan  kata-kata boleh dikatakan bualan bin gombal. Tapi itu banyak dalam cerita ini. Jadi jangan sampai terbuai dan melayang tinggi.

Inilah sebuah kisah bukan kisah yang melulu romantis tentang Senja yang mengandung romantis.

Judul Buku : Sepotong Senja untuk Pacarku│Penulis: Seno Gumira Ajidarma │Penerbit : Gramedia Pustaka Utama │ Tahun : 2017 , Januari Cetakan ketiga│Tebal : 207 halaman │ ISBN  : 978-602-03-1903-2Genre : Kumpulan CerPen ( Sastra Indonesia)

#ayomembaca 

 

(Bukan) Perjalanan yang menyenangkan Sang Alkemis

Judul Buku          : Sang Alkemis

Penulis                 : Paulo Coelho

Penerbit              : Gramedia Pustaka, Cet-14, tahun 2013

Penerjemah       : Tanti Lesmana

Tebal                     : 216 halaman

ISBN                      : 978-979-22-9840-6

 

18367755

Ada seorang anak laki-laki bernama Santiago yang merasa tujuannya hidupnya untuk berkelana, mencari tahu tentang dunia. Ia adalah penggembala domba, setiap hari selalu rutin menjaga dan membawa dombanya ke padang rumput hijau. Ia tak memiliki tempat tinggal tak ada kejelasan dimana ia menetap, tapi jelas ia selalu bersama domba. Berjalan selangkah demi selangkah menjelajahi daerah-daerah baru bersama domba. Ia akan segera menjual wol dari domba-dombanya agar ia sendiri bisa memenuhi hidup. Paling tidak dengan memiliki air anggur dan buku-buku bacaan berukuran tebal. Meskipun ia hanya gembala ia bisa membaca.

Si anak mendapati mimpi yang sama paling tidak dua kali, sehingga ia penasaran. Mimpi yang menggugahnya untuk menjadikannya nyata. Mimpi yang kelak menjadi misi hidupnya. Rasa penasaran juga mungkin terganggu membuatnya bertemu dengan  perempuan Gipsi dan seorang tua untuk menterjemahkan arti mimpinya. Perjumpaannya dengan orang tua yang mengaku  dirinya seorang raja, semakin mempertebal keyakinannya jika mimpi itu bisa di jadikan. Karena semesta bahu membahu membantu mewujudkan keinginan, begitu nasehat dari orang tua. Si anak lelaki berangkat dengan menjual kawanan dombanya yang selama ini menemani hidupnya.

Pertaruhan luar biasa demi sebuah mimpi. Dalam perjalanan menemukan harta karunnya, dimana hartamu berada disitulah hatimu. Banyak rintangan dan jegalan harus di lalui dan jalani. Mulai dari kehilangan hasil penjualan domba, sampai nyaris terbunuh oleh orang asing di negri asing. Ia sendiri bertemu dan di dampingi oleh seorang Alkemis yang mengajarinya mengerti bahasa dunia, jiwa dunia yang agung, yang juga mampu membuat emas. Ia sendiri menjadi murid sang Alkemis karena ia memang sudah berbakat mengerti bahasa dunia sejak ia bersama dombanya. Lalu akankah Santiago mendapatkan hartanya atau meraih mimpinya ? Yang menarik dari cerita ini adalah bekal di dalam keteguhan hati dan karakterisasi si anak dalam menemukan harta karunnya. Lebih menarik mendapatkan kekuatan-kekuatan dalam perjalanan mencari si harta, bukan saat menemukannya. Inilah harta sebenernya yang didapatkan oleh sang anak.

Sudah menjadi kekhasan Paulo Coleho sepertinya, membuat cerita dengan unsur spiritual, penuh perenungan diri sebagai seorang diri manusia. ALkemis sebuah cerita tentang berkelana juga memaksa pembaca untuk berkelana pula. Singgah ke tempat-tempat persinggungan sang tokoh utama. Melalui novel ini saya beranggapan Coleho sedang meyakini pula tentang harta karunnya, tentang impiannya. Kita pun selaku pembaca juga ikut tertular untuk berada pada masa itu.

Menurutmu, dimana tempat tinggal Santiago ? Sebab terkadang titik mula menjadi penting dalam sebuah keberangkatan. Kemunculan seorang Alkemis dibagian akhir cerita sangat disayangkan, mengingat dirinya lah yang dijadikan sebuah judul dari buku religious ini. Memang Tak bisa dikesampingkan perannya yang membantu cerita ini sampai pada tujuan akhirnya. Saya pikir Santiagolah yang menjadi Alkemisnya, ternyata belum tepat sasaran.

 “Ingat dimana hartamu berada disitulah hatimu berada….”

“Semesta bahu-membahu membantu kita dalam mewujudkan impian…”

#ayomembaca